Hujan Pertama Di Musim Semi (Buku I: Bramanta)

Indra Afriza Arsad
Chapter #21

Setelah Tepuk Tangan Usai

Pada pertemuan berikutnya, Bram sudah mulai lebih lancar membawakan puisinya. Tepuk tangan terdengar lebih keras, terutama pada puisi bertema laut.

Malam itu acara selesai lebih larut dari biasanya. Kursi-kursi mulai ditumpuk. Asbak dikosongkan. Sisa kopi yang sudah dingin dibiarkan begitu saja di atas meja. Orang-orang pulang sedikit demi sedikit. Sebagian masih berdiri di luar warung. Merokok. Mengobrol. Melanjutkan perdebatan yang tampaknya tidak pernah benar-benar selesai.

Bram sedang memasukkan buku catatannya ke dalam tas ketika mendengar suara dari belakang.

"Eh."

Ia menoleh. Seorang perempuan berdiri beberapa langkah darinya. Usianya mungkin dua atau tiga tahun lebih tua. Mengenakan kemeja longgar. Rambutnya diikat seadanya. Di tangannya ada buku yang bagian sudut-sudutnya sudah kusam karena terlalu sering dibawa.

"Puisi laut tadi."

Bram langsung merasa gugup. Memang ampuh betul laut kami rupanya. "Iya?"

Perempuan itu mengangguk. "Aku suka."

Hanya dua kata. Aku suka. Tidak ada analisis. Tidak ada kritik. Tidak ada kutipan filsafat. Tidak ada pembahasan struktur atau metafora. Hanya dua kata sederhana. Aku suka. Begitu pendek tapi mencengkeram, membuat Bram tidak tahu harus bagaimana menyikapinya.

"Terima kasih." Jawabnya canggung.

Perempuan itu tersenyum. "Mungkin karena aku juga lahir dekat laut."

Bram mengangguk. "Oh."

Itu jawaban yang buruk. Ia langsung menyadarinya. Namun sudah terlambat. Perempuan itu malah tertawa.

Lihat selengkapnya