Bram mulai mengenal mereka satu per satu. Tidak sekaligus. Tidak melalui perkenalan resmi. Melainkan melalui kopi yang dibagi. Rokok yang dipinjam. Kursi yang digeser. Malam-malam yang terlalu panjang. Begitulah biasanya persahabatan lahir. Tanpa upacara. Tanpa kesepakatan. Tahu-tahu sudah ada.
Ada Damar, penyair muda yang selalu terlihat yakin bahkan ketika sedang salah. Ada Arif, Mahasiswa sastra yang hafal terlalu banyak kutipan dan terlalu sedikit jadwal kuliah. Ada Jaka, anak filsafat yang bisa mengubah obrolan tentang hujan menjadi diskusi tiga jam tentang eksistensi manusia. Ada Nino Lelaki pendiam yang jarang bicara namun setiap kali bicara, semua orang mendadak diam. Karena kalimatnya sering lebih tajam daripada perdebatan sepanjang malam.
Mereka tidak kaya. Sebagian bahkan nyaris miskin. Tetapi mereka memiliki sesuatu yang sulit dijelaskan. Keyakinan. Keyakinan bahwa kata-kata penting. Keyakinan bahwa sastra bisa mengubah sesuatu. Meski mereka sendiri tidak pernah sepakat apa yang sebenarnya ingin diubah.
Malam-malam mereka memiliki pola yang ajeg. Diskusi. Puisi. Perdebatan. Kopi. Lalu diskusi lagi. Sering sampai lewat tengah malam. Kadang sampai pemilik warung mengusir mereka dengan sopan --kadang dengan tidak sopan.
Bram menyukai semua itu. Sangat menyukai. Karena selama hidupnya, ia selalu menjadi orang yang berbeda. Anak yang terlalu banyak membaca, anak yang terlalu miskin untuk bermimpi. Terlalu ini, terlalu itu. Namun di sini, Ia hanya Bram. Untuk seseorang yang sudah lama merasa asing di banyak tempat, keakraban itu terasa seperti hadiah.
Suatu malam mereka membicarakan puisi. Awalnya biasa saja. Lalu berubah menjadi perdebatan. Kemudian berubah menjadi pertengkaran kecil. Lalu kembali menjadi diskusi. Dalam waktu kurang dari satu jam. Mengalir saja.
"Puisi harus berpihak." kata Damar.
"Kenapa harus?" tanya Nino.
"Karena manusia hidup di dunia nyata."
"Puisi juga."
"Bukan itu maksudku."
"Lalu apa?"