Beberapa bulan berikutnya berjalan cepat. Atau mungkin hanya terasa cepat karena Bram mulai sibuk. Pekerjaan di lapak Surya. Pertemuan komunitas. Tulisan-tulisan baru. Pengiriman naskah. Penolakan. Pengiriman lagi. Begitu terus. Secara bertahap, namanya mulai muncul di beberapa tempat.
Satu puisi di koran daerah. Satu lagi di buletin kampus. Kemudian satu esai pendek yang bahkan nyaris tidak dibayar. Tidak cukup untuk membuatnya terkenal, tapi cukup untuk membuat sebagian orang mulai mengenalnya.
"Si Bram lagi." kata Arif suatu malam sambil mengangkat sebuah koran.
Beberapa orang menoleh. Damar merebut koran itu. Membaca sekilas. Kemudian tersenyum.
"Bagus." Lalu melemparkannya kembali.
Percakapan berlanjut. Sesederhana itu. Namun Bram melihat sesuatu, secara sekilas. Wajah seorang anggota komunitas lain yang tidak ikut tersenyum. Hanya sesaat. Lalu hilang. Seperti bayangan awan. Namanya Bagus. Mahasiswa tingkat akhir. Rajin datang. Rajin menulis. Rajin mengirim karya. Sejauh yang Bram tahu, belum pernah satu pun karyanya dimuat.
Malam itu tidak terjadi apa-apa. Mereka tetap bercanda. Tetap berdiskusi. Tetap pulang menjelang pagi. Namun beberapa hari kemudian, Bram mulai memperhatikan hal-hal kecil. Ketika puisinya dibahas, Bagus mendadak diam. Ketika seseorang memuji tulisannya, Bagus mencari rokok. Ketika namanya muncul dalam percakapan, Bagus selalu menemukan alasan untuk mengalihkan topik. Tidak kasar. Tidak terang-terangan. Hanya cukup untuk terasa. Bram sebenarnya tidak ingin memikirkannya. Namun manusia memiliki bakat aneh. Kita sering lebih mudah mengingat satu tatapan dingin daripada sepuluh senyuman hangat.
Suatu malam, setelah acara hampir selesai, ia mendengar percakapan yang seharusnya tidak ia dengar. Bukan karena menguping. Hanya kebetulan lewat.
"...terlalu cepat." Suara Bagus.
"...baru juga muncul." Suara lain menjawab pelan.
Bram tidak bisa mendengar sisanya. Namun itu sudah cukup. Sangat cukup. Sepanjang perjalanan pulang, ia lebih banyak diam.
Surya memperhatikannya. "Berantem?"
"Nggak."