Malam itu komunitas lebih ramai dari biasanya. Bukan karena ada acara khusus. Bukan karena ada lomba. Melainkan karena kabar bahwa seorang penyair senior akan datang. Nama itu sudah berkali-kali didengar Bram. Muncul dalam percakapan. Muncul dalam artikel. Muncul dalam buku-buku lama yang dijual Surya.
Pak Hadi. Bukan penyair paling terkenal. Bukan pula yang paling sering muncul di media. Namun hampir semua orang yang serius menulis mengenalnya. Mereka semua segan dan menghormatinya.
Ketika lelaki itu akhirnya datang, Bram sempat bingung. Karena sosoknya tidak seperti yang dibayangkan. Tidak berwibawa. Tidak megah. Tidak tampak seperti seseorang yang karyanya dibahas di berbagai tempat. Ia hanya lelaki tua kurus dengan kemeja lusuh dan sandal yang tampaknya sudah menempuh perjalanan panjang. Kalau bertemu di Terminal, orang mungkin akan mengiranya pensiunan guru, atau tukang reparasi radio.
Namun begitu ia mulai bicara... ruangan berubah.
Bukan karena suaranya keras. Justru sebaliknya. Semua orang yang mendekat. Semua orang yang menyesuaikan diri. Seolah kata-kata lelaki itu memiliki gravitasi sendiri. Diskusi berjalan santai. Tentang puisi. Tentang bahasa. Tentang membaca. Tentang kehidupan. Hal yang membuat Bram terkejut, Pak Hadi jarang sekali memberi jawaban. Ia lebih sering memberi pertanyaan.
"Kenapa kau menulis?"
"Kapan terakhir kali kau mengubah pikiranmu setelah membaca buku?"
"Kalau puisimu hilang besok pagi, apakah hidupmu berubah?"
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat ruangan lebih sunyi daripada perdebatan. Karena tidak mudah menjawabnya.
Di penghujung acara, Damar mendadak berkata: "Pak, ini ada Bram yang bikin puisi laut itu."
Bram langsung ingin mencekik Damar. Namun sudah terlambat. Beberapa orang mulai mengangguk.
Arif ikut menyahut. "Yang di koran itu."
"Yang itu."
"Iya."
Pak Hadi menatap Bram dengan pandangan teduhnya. “Coba bacakan deh, aku mau dengar…”
Tiba-tiba semua mata kembali mengarah kepadanya. Bram menghela napas panjang, lalu mengeluarkan buku catatan. Buku yang semakin penuh. Buku yang sudah mulai usang. Buku yang lebih sering mendengar rahasianya daripada manusia mana pun. Ia membuka halaman yang dimaksud. Kemudian membaca.