Beberapa minggu setelah pertemuan dengan Pak Hadi, hidup berjalan seperti biasa. Setidaknya dari luar. Bram tetap membantu Surya. Tetap datang ke komunitas. Tetap mengirim puisi. Tetap menerima penolakan lebih banyak daripada penerimaan. Tidak ada yang berubah.
Namun di dalam kepalanya, sesuatu terus bergerak. Perlahan. Diam-diam. Seperti akar yang tumbuh di bawah tanah. Kalimat itu masih ada.
"Jadilah manusia dulu."
Kadang muncul ketika ia sedang menulis. Kadang saat mencuci gelas kopi. Kadang saat memandangi hujan dari emperan toko. Datang tanpa diundang. Pergi tanpa penjelasan.
Suatu sore, Bram bertanya pada Surya. "Pak."
"Hm?"
"Kalau menurut Bapak..."
Surya menoleh.
"Menurut Bapak manusia itu apa?"
Lelaki tua itu tertawa. Begitu keras sampai hampir menjatuhkan buku yang sedang dibacanya. "Astaga."
"Apa?"
"Kau mulai kena Pak Hadi."
Bram menghela napas.