Hujan Pertama Di Musim Semi (Buku I: Bramanta)

Indra Afriza Arsad
Chapter #26

Kesulitan Datang Bersama Kelonggaran

Honorarium itu datang pada hari Selasa. Hari yang biasa. Terlalu biasa. Tidak ada hujan. Tidak ada peristiwa penting. Tidak ada firasat apa pun. Sampai seorang petugas datang membawa amplop. Namanya tertulis di sana.

Bramanta.

Tulisan yang masih terasa aneh setiap kali dilihatnya. Karena selama bertahun-tahun nama itu hanya milik dirinya. Sekarang nama itu mulai hidup di luar dirinya.

"Apaan?" tanya Surya.

"Nggak tahu."

Bram membuka amplop tersebut. Pelan. Kemudian membaca isinya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Honorarium. Untuk beberapa puisi dan tulisan yang dimuat selama beberapa bulan terakhir. Jumlahnya mungkin tidak besar buat banyak orang. Namun bagi Bram, jumlahnya lebih banyak daripada yang pernah ia pegang sebelumnya. Jauh lebih banyak. Ia menghitungnya. Lalu menghitung lagi. Bukan karena tidak percaya. Melainkan karena takut salah.

Surya melirik dari balik buku. "Lumayan?"

Bram mengangguk. Masih memandangi uang itu. "Lumayan."

Seumur hidupnya, Bram terbiasa memegang uang yang sudah memiliki tujuan. Uang makan. Uang ongkos. Uang bertahan hidup. Namun uang yang kini ada di tangannya terasa berbeda. Tidak ada tujuan yang menunggu. Belum. Ketiadaan tujuan itu yang membuatnya bingung.

Malamnya ia tidak bisa fokus menulis. Uang itu terus muncul di pikirannya. Seperti tamu yang tidak tahu kapan harus pulang. Ia mulai membayangkan banyak hal. Sepasang sepatu baru. Kemeja yang lebih layak. Buku. Banyak buku. Makan enak. Kasur. Mungkin bahkan kamar kontrakan kecil. Pilihan-pilihan itu berbaris rapi di kepalanya. Kini semuanya tampak masuk akal.

"Aku harus apain?" tanyanya pada Surya.

"Apanya?"

"Uangnya."

Surya tertawa. "Terserah."

"Itu bukan jawaban."

"Itu memang jawabannya."

Sunyi.

Lihat selengkapnya