Undangan ke-dua datang dua minggu kemudian. Undangan ke-tiga menyusul bulan berikutnya. Kemudian satu lagi. Lalu satu lagi. Belum cukup banyak untuk disebut terkenal. Namun cukup sering untuk membuat nama Bram mulai beredar di kalangan tertentu. Kalangan yang kecil, tapi keberadaannya tak bisa disangkal.
Kadang acara kampus. Kadang diskusi buku. Kadang malam pembacaan puisi. Kadang sekadar nongkrong yang kebetulan dihadiri terlalu banyak penyair. Semakin sering Bram datang, semakin luas lingkaran yang dikenalnya. Nama-nama baru. Wajah-wajah baru. Cerita-cerita baru.
Ada yang hidup dari mengajar. Ada yang bekerja di penerbitan. Ada yang menjadi wartawan. Ada yang bekerja di kantor dan diam-diam menulis puisi saat jam makan siang. Sebagian tampak berhasil. Sebagian tampak kelelahan. Sebagian tampak hidup dari kopi dan harapan. Namun hampir semuanya memiliki kesamaan. Mereka mencintai kata-kata.
Suatu malam Bram diajak ke sebuah tempat yang belum pernah didatanginya. Sebuah kafe kecil. Tidak mewah. Namun lebih rapi dibanding warung-warung yang biasa menjadi markas komunitasnya. Di sana sudah berkumpul beberapa orang. Lebih tua. Lebih mapan. Lebih dikenal. Nama-nama yang selama ini hanya ia lihat di majalah.
Bram langsung merasa salah kostum. Lagi. Perasaan itu ternyata belum hilang.
Ia duduk agak di pinggir. Seperti biasa. Mengamati. Mendengar. Mencatat diam-diam di kepalanya. Obrolan mengalir. Tentang buku. Tentang politik. Tentang sastra. Tentang penerbit. Tentang honor yang telat dibayar. Topik yang tampaknya universal di kalangan penulis.
Di tengah percakapan, seorang lelaki berkacamata berkata: "Kau Bram ya?"
Bram menoleh. "Iya."
"Aku baca puisimu di koran bulan lalu."
Kalimat singkat, tapi tak urung membuat Bram terdiam sesaat. Karena orang itu tidak mengenalnya secara pribadi. Bukan teman komunitas. Bukan kenalan. Orang itu adalah pembaca puisi yang kebetulan hadir di acara. Ia membaca puisinya tanpa pernah bertemu dirinya. Ajaib, pikir Bram.
"Bagus." kata lelaki itu.
"Terima kasih."
"Kau masih muda ya?"