Hujan Pertama Di Musim Semi (Buku I: Bramanta)

Indra Afriza Arsad
Chapter #29

Banyak Persahabatan Dimulai Dengan Tawa

Bram pertama kali bertemu Sancaka pada sebuah malam yang sebenarnya biasa saja. Tidak ada acara besar. Tidak ada pembacaan puisi. Tidak ada diskusi penting. Hanya acara nongkrong biasa. Jenis malam yang biasanya terlupakan. Namun justru malam-malam seperti itulah yang sering mengubah arah hidup seseorang.

Kafe itu hampir penuh. Asap rokok menggantung rendah. Musik diputar terlalu pelan untuk didengar dan terlalu keras untuk diabaikan. Bram datang terlambat. Bukan karena sengaja. Hanya karena hidupnya memang sering membuatnya terlambat.

Ketika sampai, Damar langsung melambai. "Sini."

Bram mendekat, dan melihat seorang lelaki yang belum pernah ia temui. Usianya mungkin sedikit lebih tua darinya. Tubuhnya kurus. Rambutnya agak panjang. Kemejanya tidak rapi. Namun bukan jenis tidak rapi yang miskin, semata pilihan mode saja..

Lelaki itu sedang bercerita. Semua orang mendengarkan.

"...Jadi akhirnya si dosen bilang, 'Saudara ini mendukung Newton atau sedang membela monyet?'…"

Meja langsung meledak oleh tawa. Termasuk Bram. Padahal ia bahkan tidak tahu cerita lengkapnya.

Lelaki itu menoleh. Melihat Bram. "Ini yang namanya Bram?"

"Iya."

"Nah." Ia menunjuk Bram. "Ini anak yang bikin beberapa penyair senior mulai gelisah."

Seluruh meja tertawa. Bram hampir tersedak kopi. "Itu nggak benar."

"Tentu nggak benar." kata lelaki itu santai. "Makanya lucu."

Tawa kembali pecah. Dalam waktu kurang dari lima menit, Bram sudah merasa nyaman. Itu bakat langka. Sebagian orang membuatmu nyaman karena mereka baik. Sebagian karena mereka tulus. Sancaka membuat orang nyaman karena ia tahu cara membuat semua orang merasa menjadi bagian dari cerita.

Malam itu ia bercerita tentang banyak hal. Tentang kampus. Tentang penyair mabuk yang tertidur di panggung. Tentang wartawan yang salah mewawancarai narasumber. Tentang musisi yang kabur membawa honor teman-temannya. Sebagian cerita mungkin benar. Sebagian lagi mungkin sudah dihias. Tidak ada yang peduli. Karena semua orang terhibur.

Beberapa jam berlalu tanpa terasa. Ketika mereka akhirnya keluar dari kafe, Jakarta tampak lebih tenang dari biasanya.

Lihat selengkapnya