Awalnya hanya sekali-sekali. Sepulang diskusi. Sepulang acara sastra. Sepulang pembacaan puisi. Sancaka selalu punya usul tambahan.
"Mau pulang?"
"Iya."
"Ngapain?"
Pertanyaan itu selalu berhasil membuat Bram kesal. Karena jawabannya jelas. Pulang. Tidur. Bangun. Hidup. Namun bagi Sancaka, malam yang selesai terlalu cepat adalah pemborosan.
"Ayo."
"Ke mana?"
"Belum tahu."
Entah bagaimana, jika diucapkan oleh Sancaka, itu selalu terdengar seperti rencana.
Beberapa minggu kemudian Bram mulai mengenal Jakarta yang berbeda. Jakarta setelah tengah malam. Warung yang tetap buka sampai subuh. Kedai kopi kecil yang tidak pernah muncul di koran. Musisi jalanan yang lebih berbakat daripada sebagian artis televisi. Pelukis yang hidup dari melukis papan reklame. Penulis yang belum pernah menerbitkan buku tetapi hafal ratusan puisi. Dunia yang tidak muncul dalam brosur wisata, namun justru terasa lebih hidup. Di semua tempat itu, selalu ada orang yang mengenal Sancaka.
"Ca!"
"Woy!"
"Masih hidup kau?"
Sancaka selalu tertawa. Menyalami semua orang. Mengingat nama semua orang. Kemampuan yang membuat Bram diam-diam kagum. Karena ia sendiri sering kesulitan mengingat nama orang yang baru dikenalnya lima menit lalu.
"Kok bisa?" tanya Bram suatu malam.