Tanpa benar-benar disadari Bram, sesuatu sedang berubah. Bukan pada dirinya, atau setidaknya belum. Justru yang berubah adalah orang-orang di sekitarnya.
Suatu malam, ketika ia datang terlambat ke sebuah diskusi kecil, Arif langsung berseru: "Nah, tuh orangnya datang."
Bram mengernyit. "Kenapa?"
"Kita nungguin."
"Nungguin aku?"
"Iya."
Seolah itu hal biasa. Namun sepanjang acara, kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Kita nungguin. Dulu tidak ada yang menunggunya. Dulu ia bisa datang. Bisa tidak datang. Bisa menghilang seminggu. Bisa muncul lagi. Tidak ada yang peduli.
Sekarang berbeda. Ada orang yang mulai memperhatikan kehadirannya. Awalnya terasa menyenangkan. Sangat menyenangkan. Namun perlahan-lahan muncul sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih sulit dijelaskan. Sebuah tanggung jawab.
Bukan tanggung jawab besar. Belum. Hanya perasaan bahwa keberadaannya mulai memiliki arti bagi orang lain. Hanya saja ‘arti’ selalu datang bersama beban.
Beberapa hari kemudian, seorang mahasiswa menghampirinya setelah acara baca puisi. Anak muda. Mungkin lebih muda dua atau tiga tahun darinya. Membawa buku catatan.
"Mas Bram?"
"Iya?"
"Saya suka puisi Mas."
Bram masih belum terbiasa mendengar kalimat itu.
"Terima kasih."
"Saya mulai nulis gara-gara baca karya Mas."
Itu lebih gawat lagi, pikir Bram. Lalu dia tertegun. Sunyi. Bukan sunyi yang lama. Hanya beberapa detik. Cukup untuk membuat sesuatu bergeser di dalam dirinya. Karena kalimat itu berbeda. Sangat berbeda. Menyukai puisi adalah satu hal. Menjadikan puisi seseorang sebagai alasan untuk mulai menulis... itu hal lain. Jauh lebih besar.