Beberapa bulan berikutnya berlalu dengan kecepatan yang sulit dijelaskan. Hari-hari tetap terasa panjang. Namun ketika menoleh ke belakang, semuanya tampak bergerak begitu cepat.
Tulisan Bram semakin sering muncul. Cukup untuk membuat namanya tidak lagi asing di beberapa lingkaran. Sesekali ada honor. Sesekali tidak ada. Kadang cukup untuk makan lebih baik selama beberapa hari. Kadang hanya cukup untuk membeli kopi. Sebagian besar uangnya tetap berubah menjadi buku.
"Ini penyakit." kata Surya suatu sore.
"Apa?"
"Kau."
Bram tertawa. "Aku kenapa lagi?"
"Orang normal kalau punya uang beli baju."
"Bajuku masih bagus."
"Beli sepatu."
"Sepatuku juga masih bagus."
Surya menunjuk tumpukan buku di samping tempat tidur. "Itu kenapa nambah terus?"
Bram tidak punya jawaban. Karena memang tidak ada. Ada orang yang mengoleksi perangko. Ada yang mengoleksi piringan hitam. Ada yang mengoleksi luka. Bram mengoleksi kemungkinan. Baginya buku selalu terlihat seperti kemungkinan yang belum dibuka.