Hujan Pertama Di Musim Semi (Buku I: Bramanta)

Indra Afriza Arsad
Chapter #33

Denting Gelas Di Antara Botol

Malam itu sebenarnya tidak berbeda dari malam-malam sebelumnya. Ada acara sastra. Ada diskusi yang molor. Ada orang yang berdebat tentang puisi seolah sedang menyelamatkan dunia. Ada kopi. Ada rokok. Ada tawa. Seperti biasanya, setelah acara selesai, tidak ada yang benar-benar ingin pulang.

"Ayo." kata Sancaka.

Bram bahkan sudah berhenti bertanya soal ke mana tujuannya. Karena jawaban Sancaka selalu sama: Entah.

Mereka berakhir di sebuah tempat yang belum pernah didatangi Bram. Bukan kafe. Bukan warung. Sebuah rumah tua yang sebagian ruang depannya dijadikan tempat berkumpul. Ada musik. Ada obrolan. Ada beberapa wajah yang dikenalnya. Ada lebih banyak wajah yang tidak dikenalnya. Namun suasananya santai. Terlalu santai.

Orang-orang duduk di lantai. Di kursi. Di tangga. Dimana saja yang kosong. Percakapan bersilang ke segala arah. Sastra. Film. Musik. Politik. Cinta. Mantan. Topik yang terakhir biasanya berakhir buruk.

Bram menikmatinya. Sampai ia menyadari sesuatu. Di meja tengah terdapat beberapa botol. Tidak disembunyikan. Tidak dipamerkan. Hanya ada. Ia melihat dan mengenali botol-botol itu dari film-film barat yang pernah dia lihat. Ternyata di sini ada juga, pikirnya. Polos.

Kemudian Bram kembali mendengarkan percakapan di sekitarnya. Mencoba menangkap sesuatu yang berbeda. Tidak ada. Tidak ada yang memaksa siapa pun. Tidak ada yang menawarkan. Tidak ada drama. Sungguh lain dengan konstruksi yang ada dalam pikirannya. Karena selama ini dalam bayangannya: botol-botol minuman seperti itu selalu hadir bersama keributan dan suasana rusuh. Ternyata tidak. Ternyata mereka bisa hadir bersama tawa. Bisa juga hadir bersama musik. Kadang hadir begitu biasa sampai nyaris tidak terlihat.

Beberapa jam berlalu. Percakapan semakin cair. Seseorang membacakan puisi. Seseorang menyanyikan lagu. Seseorang bercerita tentang patah hati yang terdengar lebih lucu daripada sedih. Bram mulai memahami mengapa banyak orang menyukai tempat seperti ini. Bukan karena minumannya. Melainkan karena perasaannya. Perasaan bahwa malam tidak perlu segera berakhir. Perasaan bahwa untuk beberapa jam... hidup bisa ditunda.

"Kau kenapa?" tanya Sancaka.

"Hm?"

Lihat selengkapnya