Malam itu Bram pulang hampir pukul empat pagi. Langit masih gelap ketika ia tiba di gang menuju kontrakan. Sebagian besar orang masih larut dalam mimpi. Bram berjalan pelan. Mencoba tidak membuat suara. Namun begitu memasuki halaman kecil tempat ia tinggal menumpang, langkahnya melambat. Karena ada cahaya. Lampu kecil di ruang depan masih menyala.
"Aneh." gumamnya.
Biasanya pada jam segini lampu sudah dimatikan. Ia membuka pintu perlahan, dan menemukan lelaki tua itu duduk di kursi kayu. Buku terbuka di pangkuannya. Kacamata masih terpasang. Tertidur. Bram tersenyum kecil. Pemandangan itu tak urung membuatnya dilingkupi rasa haru.
Buku. Kursi. Lampu. Surya. Sebuah kombinasi yang entah bagaimana selalu berhasil menciptakan suasana rumah. Ia hendak mematikan lampu. Namun sebelum sempat melakukannya... Surya membuka mata.
"Baru pulang?"
"Iya."
"Jam berapa ini?"
Bram melirik jam dinding. "Hampir jam empat."
Surya mengangguk. Tidak marah. Tidak heran. Tidak mengeluh. Hanya mengangguk.
"Seru?"
Bram tersenyum. "Iya."
"Bagus."
Sunyi. Kemudian Surya berdiri. Meregangkan punggungnya. Suara tulang-tulangnya berbunyi pelan. Bram baru menyadari sesuatu. Beberapa tahun terakhir, lelaki itu tampak semakin tua. Bukan banyak. Tidak drastis. Namun cukup untuk terlihat jika diperhatikan. Rambut yang semakin putih. Gerakan yang sedikit lebih lambat. Mata yang lebih cepat lelah. Hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian, karena terjadi perlahan.
"Aku bikin kopi ya." kata Bram.
Surya menoleh. "Jam empat pagi?"
"Iya."