Hujan Pertama Di Musim Semi (Buku I: Bramanta)

Indra Afriza Arsad
Chapter #35

Beberapa Orang Tidak Terburu-buru

Di hari setelah kopi pukul empat pagi, Bram tertidur hampir sampai siang. Hal yang dulu mustahil. Dulu hidup tidak memberinya kemewahan seperti itu. Ketika bangun, matahari sudah tinggi. Suara jalanan sudah ramai. Aroma masakan dari rumah-rumah sekitar masuk melalui jendela.

Untuk beberapa saat ia hanya berbaring. Memandangi langit-langit. Tidak memikirkan apa-apa. Perasaan itu terasa asing. Karena selama bertahun-tahun pikirannya selalu penuh. Pekerjaan. Uang. Masa depan. Tulisan. Kelaparan. Kini sesekali muncul pagi seperti ini. Pagi yang tidak menuntut apa-apa. Ia belum tahu apakah itu pertanda baik atau buruk.

Di depan, Surya sedang menyusun buku. Seperti biasa. Bram memperhatikannya dari jauh. Ada sesuatu yang menenangkan dalam melihat seseorang melakukan hal yang sama selama bertahun-tahun. Bukan karena hidupnya tidak berubah. Melainkan karena ia tahu apa yang ingin dipertahankan.

"Kau ngelamun lagi." kata Surya tanpa menoleh.

"Aku curiga Bapak punya mata di belakang kepala."

"Nggak."

"Lalu?"

"Kau tinggal sama aku cukup lama. Aku sudah hafal."

Bram terkikih. Mereka kembali pada pekerjaan masing-masing. Hari berjalan lambat. Setelah sekian lama hidup dalam kecemasan, Bram menyadari bahwa ia kini sedang menikmati hidup. Bukan mengejarnya. Bukan melawannya. Menikmatinya. Perasaan itu tak urung membuatnya sedikit takut, karena kebahagiaan selalu terasa rapuh bagi orang yang pernah kehilangan terlalu banyak hal.

Lihat selengkapnya