Hujan Pertama Di Musim Semi (Buku I: Bramanta)

Indra Afriza Arsad
Chapter #36

Hanya Seteguk

Seperti sudah menjadi sebuah pola: Malam itu dimulai seperti malam-malam lainnya. Diskusi. Tawa. Puisi. Kopi. Tidak ada tanda apa pun. Tidak ada firasat. Tidak ada perasaan aneh. Hanya malam biasa.

Menjelang tengah malam Sancaka mengajak untuk berpindah tempat, entah ke mana. Bram bahkan sudah tidak heran lagi. Kadang ia merasa Sancaka memiliki kemampuan khusus menemukan tempat-tempat yang tidak tercatat di mana pun.

Mereka berakhir di sebuah rumah kontrakan milik seorang musisi. Ruang tamunya sempit. Dindingnya penuh poster. Ada gitar di sudut ruangan. Ada kaset-kaset lama yang bertumpuk sembarangan. Orang-orang duduk di mana saja. Karpet. Kursi. Lantai. Musik diputar pelan. Percakapan mengalir ke segala arah. Di tempat itu, seperti sebuah tradisi, ada beberapa botol di atas meja. Kali ini Bram tidak terlalu memperhatikannya. Mungkin karena ia sudah mulai terbiasa melihatnya. Mungkin karena benda-benda yang sering muncul perlahan kehilangan keasingannya.

Malam berjalan. Seseorang memainkan gitar. Seseorang bernyanyi. Seseorang membaca puisi yang terlalu panjang, yang tentu saja membuat semua orang mengeluh. Hanya Sancaka yang bisa dengan santai menarik si penyair untuk turun tanpa membuat masalah.

"Aku belum selesai." protes si penyair.

"Justru itu masalahnya." jawab Sancaka.

Ruangan meledak oleh tawa. Bram ikut tertawa. Sampai perutnya sakit. Pada saat itulah ia menyadari sesuatu. Ia bahagia. Sesederhana itu. Tidak sempurna. Tidak luar biasa. Namun cukup bahagia untuk lupa menghitung luka.

Sekitar pukul dua pagi, percakapan mulai terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil. Sebagian orang bermain musik. Sebagian berdebat. Sebagian hanya duduk diam. Bram sedang mendengarkan cerita seorang wartawan ketika seseorang meletakkan gelas di depannya. Bukan Sancaka. Bukan siapa-siapa yang penting. Hanya seseorang yang lewat.

Lihat selengkapnya