Hujan Pertama Di Musim Semi (Buku I: Bramanta)

Indra Afriza Arsad
Chapter #37

Setelahnya, Puisi Datang Begitu Mudah

Beberapa minggu setelah malam itu, Bram hampir melupakannya. Hampir. Karena pada kenyataannya, yang benar-benar terlupakan biasanya tidak pernah muncul lagi dalam pikiran. Sedangkan sesekali, ketika melihat gelas serupa di meja-meja pertemuan mereka, ia masih teringat rasa pahit itu. Rasa yang menurutnya tidak masuk akal. Namun ternyata manusia tidak selalu kembali pada sesuatu karena menyukainya. Kadang karena penasaran.

Malam itu hujan turun sejak sore. Jakarta tampak kusam. Basah. Sedikit murung. Acara sastra yang dihadirinya selesai lebih cepat dari biasanya. Sebagian orang pulang. Sebagian tetap tinggal. Seperti biasa. Bram seharusnya ikut pulang. Ia bahkan sudah berdiri. Sudah mengenakan jaket.

Lalu seseorang berkata: "Malam masih panjang, anak muda."

Beberapa orang tertawa. Lalu yang lain menambahkan: “buru-buru betul, seperti ada yang dikejar saja."

Kemudian suara-suara lain ikut menambahkan. Mengajaknya untuk tetap tinggal barang sejenak. Karena merasa tidak enak, Bram kembali duduk. Kadang hidup memang berubah karena keputusan-keputusan yang sangat bodoh.

Malam berjalan. Percakapan berjalan. Tawa berjalan. Kemudian saat sebuah gelas kembali berada di dekat tangannya, kali ini ia tidak memandanginya selama setengah jam. Ia hanya mengangkatnya. Meneguk isinya. Sedikit. Masih pahit. Masih aneh. Namun kali ini ia sudah tahu apa yang akan datang setelah rasa pahit itu. Hangat. Bukan di kepala. Belum. Lebih seperti sesuatu yang perlahan mengendur. Seperti simpul yang dilepas satu per satu. Pikiran yang biasanya berisik menjadi sedikit lebih tenang. Sedikit saja. Namun cukup untuk terasa.

Lihat selengkapnya