Ide itu muncul saat Bram sedang menghitung uang. Kegiatan yang sebenarnya tidak terlalu ia sukai. Karena selama bertahun-tahun hidupnya sederhana. Kalau ada uang: makan. Kalau lebih: beli buku. Selesai. Namun sekarang keadaan mulai berbeda. Honor tulisan datang lebih sering. Beberapa acara mulai memberinya uang transport. Sesekali ada pekerjaan sampingan. Tidak besar. Tetapi cukup. Cukup untuk membuatnya berpikir tentang masa depan lebih dari satu minggu ke depan.
Malam itu ia duduk di kamarnya. Kamar yang selama ini menjadi dunianya. Kasur. Meja kecil. Tumpukan buku. Beberapa lembar puisi. Ia memandangi ruangan itu cukup lama. Lalu tersenyum. Ruangan ini pernah menyelamatkannya. Namun ruangan ini tidak dibangun untuk ditinggali selamanya. Pikiran itu terus mengikutinya selama beberapa hari.
Sampai akhirnya ia menemukan sebuah kontrakan kecil. Tidak mewah. Bahkan jauh dari mewah, tapi bersih. Ada kamar sendiri. Ada ruang kecil untuk menulis. Ada jendela. Namun yang paling penting adalah: harga sewa tempat itu terjangkau oleh isi dompetnya.
Malam itu ia pulang dengan langkah ringan. Perasaannya hampir seperti anak kecil yang membawa kabar baik. Surya sedang membaca ketika Bram masuk.
"Pak."
"Hm?"
"Aku nemu kontrakan."
Surya menurunkan bukunya. "Bagus."
"Dekat dari sini."
"Bagus."
"Bersih."
"Bagus."
"Bisa buat nulis."
"Bagus."
Bram mulai tertawa. "Bapak ini isinya cuma satu kata ya?"
"Aku lagi baca."
Mereka tertawa. Kemudian Bram menarik napas.
"Aku mau pindah." Kalimat itu akhirnya keluar.
Sunyi beberapa detik.
Surya hanya mengangguk. Tidak terlihat terkejut. Tidak terlihat sedih. Seolah memang sudah menunggu kalimat itu sejak lama.
"Bagus."