Hari-hari pertama di kontrakan baru terasa seperti liburan panjang. Tidak ada yang mengetuk pintu pagi-pagi. Tidak ada yang mengingatkan waktu makan. Tidak ada yang bertanya kapan pulang. Sejak datang ke Jakarta, baru kali ini seluruh ritme hidupnya ditentukan oleh dirinya sendiri. Dan Bram menyukai itu. Sangat menyukai itu.
Ia bisa membaca sampai subuh. Tidur sampai siang. Menulis saat hujan. Mendengarkan musik keras-keras. Membiarkan buku berserakan tanpa ada yang mengomel. Kebebasan memiliki aroma yang menyenangkan. Terutama bagi orang yang terlalu lama hidup dalam keterbatasan.
Malam-malamnya tetap sibuk. Diskusi. Peluncuran buku. Pementasan musik. Obrolan panjang yang tidak punya tujuan. Nama Bram mulai lebih sering disebut. Tidak besar. Belum. Namun cukup untuk membuat beberapa orang mengenal wajahnya.
Ada yang meminta puisinya. Ada yang meminta pendapatnya. Ada yang mengajaknya bergabung dalam proyek-proyek kecil. Hal-hal yang dulu terasa jauh. Kini datang sendiri. Suatu malam ia pulang membawa amplop honor. Cukup tebal dibandingkan apa yang pernah dipegangnya beberapa tahun lalu. Di perjalanan pulang ia membeli beberapa buku. Sudah pasti. Lalu membeli kopi. Sudah pasti. Kemudian langkahnya berhenti di depan sebuah toko. Ia berdiri cukup lama. Tidak ada pergulatan besar. Tidak ada suara-suara dramatis dalam kepala. Hanya sebuah pikiran sederhana.
"Biar nggak perlu nyari kalau lagi mau nulis."
Sesederhana itu. Malam itu sebuah botol ikut pulang ke kontrakan. Ia meletakkannya di sudut meja. Di samping buku catatan. Di dekat mesin tik tua yang dibelinya bekas dari seorang wartawan. Botol itu tampak biasa saja. Tidak mengganggu. Tidak mengancam. Sama seperti benda lain di ruangan itu.
Hari-hari berlalu. Kadang botol itu disentuh. Kadang tidak. Namun pelan-pelan sebuah kebiasaan mulai tumbuh.
Bram pulang. Membuka jendela. Menyalakan lampu meja. Menuang sedikit Hanya sedikit. Karena ia bukan pemabuk, begitu pikirnya. Kemudian ia pun menulis sampai lewat tengah malam.