Hujan Pertama Di Musim Semi (Buku I: Bramanta)

Indra Afriza Arsad
Chapter #40

Hari-Hari Baik

Ada masa dalam hidup seseorang ketika segala sesuatu tampak berjalan sesuai rencana. Bagi Bram, masa itu datang tanpa banyak pengumuman. Ia tidak bangun suatu pagi lalu berkata: "Hari ini hidupku membaik." Tidak. Perubahannya terlalu pelan untuk disadari. Namun jika dibandingkan dengan dirinya beberapa tahun lalu, perbedaannya nyaris seperti dua orang yang berbeda.

Dulu ia menghitung uang receh sebelum membeli makan. Sekarang ia masih menghitung uang. Tetapi alasannya berbeda. Dulu ia takut tidak bisa bertahan sampai minggu depan. Sekarang ia mulai memikirkan bulan depan. Dulu ia menulis karena tidak punya tempat lain untuk menyimpan pikirannya. Sekarang orang mulai membaca apa yang ditulisnya. Bahkan sesekali menunggunya. Perasaan itu menyenangkan, meski sedikit membebani juga. Karena harapan orang lain selalu lebih berat dari harapan pada diri sendiri.

Suatu sore sebuah puisi Bram dimuat di majalah yang cukup dikenal. Tidak ada pesta. Tidak ada perayaan. Namun ia membeli dua eksemplar. Satu untuk dirinya. Satu lagi untuk Surya.

Malamnya ia datang berkunjung. Rumah kecil itu masih sama. Rak buku yang sama. Radio yang sama. Aroma kopi yang sama. Surya membaca majalah itu sampai selesai. Tidak terburu-buru. Tampak menikmati kata demi kata.

"Lumayan." katanya.

Bram tertawa. "Cuma lumayan?"

Lihat selengkapnya