Hujan Pertama Di Musim Semi (Buku I: Bramanta)

Indra Afriza Arsad
Chapter #41

Setelah Keramaian Terurai

Malam itu sebuah acara musik kecil berlangsung di halaman belakang sebuah rumah. Lampu gantung dipasang seadanya. Pengeras suara beberapa kali bermasalah. Kursi yang tersedia tidak cukup untuk semua orang. Dengan kata lain: acaranya sukses.

Sancaka sudah datang sejak sore. Ia mengenal hampir semua orang. Atau setidaknya bertingkah seolah mengenal semua orang. Ketika Bram muncul, lelaki itu langsung melambaikan tangan.

"Sini."

Bram duduk. "Aku baru datang."

"Itulah kenapa aku manggil."

"Sialan." Gerutu Bram.

Sancaka tertawa.

Malam berjalan cepat. Musik. Puisi. Tawa. Obrolan yang meloncat ke mana-mana. Sampai suatu saat Bram sedang bercerita tentang sebuah puisi yang sedang ditulisnya. Sancaka mendengarkan. Benar-benar mendengarkan.

Lalu tiba-tiba menyela. "Tunggu."

"Apa?"

"Kau sadar nggak?"

"Sadar apa?"

"Kau sekarang lebih banyak ngomong."

Bram tertawa. "Itu penghinaan atau pujian?"

"Dua-duanya."

Orang-orang di sekitar ikut tertawa. Namun Sancaka belum selesai.

"Dulu kalau ditanya satu kalimat..." Ia mengangkat satu jari. "jawabanmu setengah kalimat."

"Berlebihan." Tukas Bram.

Lihat selengkapnya