Hujan Pertama Di Musim Semi (Buku I: Bramanta)

Indra Afriza Arsad
Chapter #42

Malam yang Produktif

Ada satu hal yang tidak pernah diceritakan orang-orang ketika membahas kebiasaan buruk. Pada awalnya, kebiasaan buruk membawa hasil yang diinginkan. Itulah sebabnya orang mempertahankannya. Kalau hasilnya langsung buruk, semua orang akan berhenti. Namun hidup jarang sesederhana itu.

Beberapa bulan setelah pindah kontrakan, Bram memasuki masa paling produktif dalam hidupnya. Puisi datang lebih cepat. Esai selesai lebih rapi. Catatan-catatan kecil yang biasanya tercecer mulai berubah menjadi tulisan utuh. Ia menulis hampir setiap malam. Kadang sampai pukul tiga pagi –waktu kebangkitan para penyair. Kadang sampai suara adzan pertama terdengar dari kejauhan.

Meja kerjanya tidak pernah benar-benar bersih. Selalu ada kertas. Selalu ada buku. Selalu ada gelas. Sekarang Bram menyukai pemandangan itu. Karena baginya, kekacauan kecil adalah tanda bahwa sesuatu sedang dikerjakan.

***

Suatu sore Pak Hadi membaca beberapa puisi barunya. Lelaki tua itu mengangguk beberapa kali.

"Bagus."

Satu kata itu cukup membuat Bram senang selama seminggu.

"Yang ini hidup." kata Pak Hadi sambil menunjuk salah satu halaman. "Yang ini juga."

Bram berusaha terlihat santai. Namun senyum di wajahnya sulit disembunyikan. Ia pulang membawa naskah itu. Sepanjang perjalanan satu pikiran terus mengikutinya. Aku sedang berkembang. Kalimat sederhana. Namun memabukkan. Kadang lebih memabukkan daripada alkohol itu sendiri.

Malamnya ia duduk di meja kerja. Membuka kembali catatan-catatan lama. Beberapa tulisan setahun lalu terasa asing. Belum matang. Terlalu tergesa. Terlalu ingin terdengar pintar. Ia tersenyum. Mungkin beginilah rasanya bertumbuh.

Kemudian ia menuang sedikit ke dalam gelas. Gerakan yang sekarang terasa biasa. Bukan keputusan. Kini sudah mulai jadi kebiasaan. Sialnya,  justru itu yang tidak ia sadari. Karena kebiasaan yang paling kuat bukan kebiasaan yang dipilih setiap hari. Melainkan kebiasaan yang berhenti dipertanyakan.

Malam terus berjalan. Tulisan terus lahir. Di luar hujan turun sebentar lalu berhenti.

Di dalam kamar sempit itu, Bram merasa sedang memenangkan sesuatu. Mungkin dirinya sendiri. Mungkin masa lalunya. Mungkin hidup. Apa pun itu, ia menikmatinya. Sayang, ketika seseorang sedang menikmati hasil, ia jarang memeriksa metode.

***

Lihat selengkapnya