Hujan Pertama Di Musim Semi (Buku I: Bramanta)

Indra Afriza Arsad
Chapter #43

Mereka Datang Membawa Malam

Kontrakan Bram perlahan berubah fungsi. Awalnya hanya tempat tinggal. Kemudian menjadi tempat menulis. Lalu menjadi tempat singgah. Sebelum ia menyadarinya, tempat itu mulai menjadi salah satu titik pertemuan. Tidak resmi. Tidak direncanakan. Terjadi begitu saja. Ada teman yang mampir setelah acara. Ada penyair muda yang ingin menunjukkan naskah. Ada musisi yang butuh tempat ngobrol sampai pagi. Sebagian datang membawa buku. Sebagian membawa cerita. Sebagian membawa masalah. Beberapa membawa botol. Bram tidak pernah meminta. Namun ia juga tidak pernah menolak.

Malam-malam di kontrakan mulai memiliki pola sendiri. Pintu diketuk. Orang datang. Obrolan berlangsung. Asbak penuh. Gelak tawa muncul. Lalu seseorang mulai membacakan puisi. Kadang bagus. Kadang buruk –namun selalu dilakukan dengan keyakinan penuh, sehingga membuat semua orang tertawa.

Sancaka menjadi pengunjung paling setia. Tentu saja. Bahkan kadang muncul tanpa alasan.

***

Suatu malam Bram membuka pintu. Sancaka berdiri di sana.

"Ada apa?" Tanya Bram.

"Nggak ada." Jawab Sancaka sambil tersenyum jahil. "Hanya memastikan kau belum jadi orang penting."

Mereka mengobrol sampai larut. Seperti biasa. Lalu seseorang datang. Kemudian seseorang lagi. Lalu satu orang lagi. Tanpa direncanakan. Kontrakan kecil itu kembali penuh. Menjelang pukul dua pagi... tinggal empat orang yang masih bertahan. Botol di meja hampir habis. Salah seorang penyair muda sedang berdebat soal Chairil. Orang lain sedang membela Rendra. Perdebatan yang tidak akan pernah selesai, karena itu justru menyenangkan.

Di tengah keramaian itu, Sancaka tiba-tiba menoleh ke Bram.

Lihat selengkapnya