Tidak ada yang istimewa pada hari Selasa itu. Tidak ada acara sastra. Tidak ada peluncuran buku. Tidak ada diskusi. Tidak ada tamu. Hanya hari biasa. Bram bangun agak siang. Membuat kopi. Membaca koran yang dibelinya di kios depan. Lalu menulis. Beberapa jam kemudian ia keluar membeli makan. Kembali. Menulis lagi. Hari berjalan lambat. Seperti kebanyakan hari dalam hidup kebanyakan manusia.
Sore menjelang malam. Lampu kamar dinyalakan. Bram menyelesaikan sebuah esai pendek. Tidak buruk. Namun juga tidak istimewa. Ia meregangkan badan. Melihat jam. Baru pukul delapan. Biasanya pada jam segitu ia masih di luar. Entah di ruang diskusi. Entah di warung kopi. Entah di rumah seseorang. Malam itu tidak. Tidak ada rencana. Betapa tiba-tiba kontrakan terasa lebih sunyi dari biasanya.
Bram berdiri. Lalu melangkah menuju dapur. Membuka lemari. Tangannya berhenti. Botol itu ada di sana. Masih setengah. Ia memandanginya beberapa detik. Lalu mengambil gelas. Gerakan yang semakin familiar. Ketika cairan pertama menyentuh lidahnya, ia bahkan tidak menikmati rasanya. Karena sejujurnya... ia tidak pernah benar-benar menyukai rasanya. Rasa itu tetap pahit. Tetap keras. Tetap membuat tenggorokan hangat dengan cara yang aneh. Tetap saja malam itu ia meminumnya juga.
Duduk sendirian. Tanpa teman. Tanpa tulisan. Tanpa alasan. Pertama kali sejak kebiasaan minumnya dimulai, Bram menyadari sebuah fakta sederhana. Ia tidak sedang mencari inspirasi. Ia sedang mencari suasana. Pikiran itu lewat begitu saja. Tidak tinggal lama. Tidak cukup lama untuk membuatnya khawatir. Karena saat itu terdengar suara ketukan di pintu.
Dia membuka pintu dan mendapati Sancaka. Tentu saja.
"Halo, kawan?" Ujar Sancaka dengan gaya khasnya.
"Eh, masukā¦"
"Wah."
"Wah kenapa?"
"Jarang banget kau ada di rumah malam begini."
Bram tertawa. "Emang kenapa?"