Episode 1
Di Bawah Hujan,
Payung Dibawa Ajian
Hujan menyerbu bumi Jakarta. Ujung-ujung runcing ombak, kalut menombak-nombak tanggul laut. Tembok-tembok bak pinggul prajurit Majapahit renta di sungai-sungai, dipaksa menahan serbuan air yang gila. Sampah-sampah merajalela, dihanyutkan oleh jutaan kecipak ikan bandaraya.
Hujan yang saban waktu menderam, membikin geram pedagang kaki lima dan asongan. Juga tukang ojek, nelayan, dan petani garam. Tapi, tidak buat Alfan dan Alfin, serta teman-temannya, yang berseragam lusuh buram. Meski gigi geraham menggigil dan kaki kram, mereka meneriakkan ajian pemanggil pelanggan bagai sales cream wajah kusam.
Tante … Abang … Neng … Bossque … Babe … Enyak … Bro … Sis … Om … Mas … Mbak … Opa … Oma …
Payung … ceban saja …
Siap juga bawa belanja’an … gratis … mumpung promo …
Ngikutin trend beli sambil sedekah, fomo …
Besok dikenai harga …
Tak semahal surga …
Alfin menghampiri seorang nenek yang menenteng keresek, keluar dari pintu mal. Dia menawarkan payung biru yang agak jelek dan kumal. Dia memayungi nenek yang berpenampilan laksana abege itu hingga mobilnya di parkiran luar.
Sebelum membuka pintu mobil, nenek itu merogoh saku kanan-kirinya, tak didapati uang. Nenek itu lupa, nyaris semua transaksi keperluannya via gesek atm atau memindai kode Qris.
“Kamu baca buku?”
Alfin sempat bimbang. Sebab, baru kali ini mendapat pertanyaan begitu, seusai mengojek payung. Sebenarnya, dia segera menjawab iya. Dia memang gandrung pada bacaan. Dia kerap menukar hasil mulung dengan buku-buku bekas, yang sudah masuk karung atau diikat rapi tali rafia oleh Pak Sakera, orang Madura, pengepul dan pemasok barang rongsok. Dia juga rutin berkunjung ke gubuk baca yang disediakan oleh kakak-kakak aktivis literasi sekitar kali Ciliwung.
“IYA.”
Mendengar suara jenis bariton, sang nenek mengeluarkan sebuah buku dari keresek. Buku baru, masih tersegel plastik OPP (Oriented Polypropylene).
“Ini, untuk kamu. Sebenarnya buat Alifia, cucuku, sepertinya seumuran denganmu. Besok, beli lagi.”
“Terima … kasih … Nek,”
Alfin mengulurkan salim dan mencium punggung tangan sang nenek, lalu membukakan pintunya. Sang nenek memberi senyum haru.
Alfin kembali ke kerumunan temannya.
“Dapat berapa, tadi?” tanya Alfan, kakaknya, yang berbadan gempal, hitam, dan berambut kriwul.
Alfin menggelengkan kepala.
“Hah? Dari nenek, barusan. Gopek, seceng, noceng, goceng, ceban?”
Alfin menggelengkan kepala lagi.
Dia menunjukkan sebuah buku.
“Buku? Uangnya dibelikan buku?”
Alfin menggelengkan kepala ketiga kali.
“Bilang!”
“Upahnya diganti buku …”
“Apa?”
“Harganya setara upah ojek payung duabelas kali. Terpasang di sampul belakang: 125.000.”