Episode 2
Menghentikan Hujan
Menuju “rumah” Alfin, juga rumah-rumah sekumpulan temannya, melalui gang-gang sempit. Hanya kendaraan roda dua atau tiga dan gerobak bisa melewati perkampungan. Kendaraan roda empat, perlu parkir jauh di pinggir jalan raya.
Kalau mau menemui Alfin di rumahnya, kepala kalian harus mendongak langit dahulu; menyaksikan deretan gudang dan gedung menjulang bertingkat berlapis kaca. Kantor-kantor pemerintahan yang megah di kanan-kiri jalan raya bercabang sembilan. Perumahan-perumahan kaum kaya-elit dan pejabat teras menghiasi kota-kota. Sekolah-sekolah bonafid dengan SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) ratusan juta per-tahun. Mal-mal tumbuh subur dengan bunga dan buah merekah, menjebak khalayak untuk betah dan menghabiskan upah UMR sebulan dalam sekejap saja. Ketika malam, gemerlap cahaya lampu bertebaran bersaing dengan rembulan purnama. Lampu-lampu mobil menyorot tajam, menyilaukan mata.
Kemudian, kalian memarkirkan mobil di pinggir jalan raya (tapi awas, spion dan ban bisa lepas, bahkan tas dalam mobil tandas, kaca pecah atau terkelupas). Kalian menyusuri gang-gang ramping. Sekelompok rumah atau gubuk menunduk. Dinding-dinding dari bata tanpa plester. Tembok-tembok kayu-papan bekas. Atap-atap genting yang meratap atau lembaran seng atau asbes yang dirembesi hujan. Dan belakang rumah mereka, bukan kebun yang dirimbuni embun, namun sungai Ciliwung, yang hitam dan bau, bikin hidung meraung.
… RUMAH Alfan & Alfin …
Tok-tok. Suara ketukan pintu. Kedua kuping Alfan tersumpal perangkat jemala. Pak Gafar sedang leyeh-leyeh di dipan kasur buluk. Ketukan menjadi gedoran. Alfin meletakkan bukunya di meja doyong. Terdengar suara orang mendorong pintu. Alfin bergegas membuka: dua orang. Yang satu, berpakaian rapi bagai pekerja kantor, berdasi, berkacamata, dan menjinjing tas serta berkas. Yang kedua, berpenampilan preman pasar, sangar; tato wanita telanjang tertanam di lengan gempal dan dada bidang berbulu tipis. Anting di kuping kanan dan tindik di sebelah kuping kiri. Rambut pendek ber-skin bagian samping dan belakang.
“Mana bapakmu?”
“Panggil!”
Siapa, Fin? Pak Gafar bertanya, karena mendengar suara keras, ketika akan membaringkan tubuh, memejamkan mata, sebentar, sebelum berkecimpung dengan bahan-bahan pembuatan siomai. Bagaimana tidak terdengar, ukuran rumah sekadar tujuh meter lawan tujuh meter. Ruang tamu dan kamar bersekat triplek jelek.
“Tamu, Pak.”
Pak Gafar melangkah. Menemui dua orang yang bertingkah.
“Ketemu deh sama Pak Gafar. Susah sekali ditemui, kayak pejabat pemda saja.” Lelaki berkacamata memulai pembicaraan.
“Maaf, Bang, saya kan sibuk kerja, jualan …”
“Sudah diputuskan?” pria berpenampilan preman sekonyong-konyong mendesak dengan pertanyaan panas.
“Ini sudah ke-3 kali saya ke sini, tapi belum ada jawaban,” lelaki berkacamata menimpali.
“Katakan iya atau tidak memakai jasa kami?”
“Kalau tidak, sudah tahu kan risikonya?”
“Nunggu apa? Hah?”
“Sudah banyak warga yang bergabung. Tidak ada kesempatan emas lagi! Ngurus sendiri, ribet. Paham?”
Lelaki berkacamata dan pria bertato itu saling bergantian meneror dengan ungkapan-ungkapan horor.
“Beri kami waktu lagi …”
“Sampai kapan? Sampai gerobak reyotmu itu, saya remukkan? Atau sampai kepala dua bocahmu, saya pecahkan? Atau sampai rumahmu, saya ambrukkan?”
“Tidak … tidak … tidak … beri waktu lagi kepada kami …”
Alfin memegangi pundak bapaknya. Alfan berhenti dari keasyikannya. Berdiri. Dia menengok ke ruang tamu. Menyaksikan bapak dan adiknya dibentak dan diancam, dia bergerak ke dapur, menggasak pisau yang biasa dipakai membedah ikan tengiri.
PERGI. PERGI. PERGI. Kalau tidak, pisau ini mencacah perut kalian.
Pak Gafar, Alfan, dan kedua tamu itu terbelalak ke arahnya.
“Sabar, sabar, sabar, Fan …” Pak Gafar memohon.
TIDAK. TIDAK. TIDAK. PERGI kalian!