Episode 3
Tak Ada Hujan Hari ini
Alfan & Alfin, serta sekelompok temannya telah bersiap dengan payung-payung di depan pintu-pintu mal. Hari masih siang. Tapi, langit bertaburan awan hitam. Memang begitu jadwal rutin alam: pagi, panase kentang-kentang; siang hingga malam, hujan menantang.
Tiada mal Jakarta yang sepi. Mulai pukul sepuluh pagi hingga sepuluh malam, mal-mal itu menjajakan diri. Menawarkan kemolekan barang. Memasarkan jasa pemanjaan. Mempromosikan rumah mewah, sekaligus rumah program KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Menyodorkan menu makan-minum yang juicy luicy.
Meskipun ribuan pengunjung itu mengidap sindrom Rojali (Rombongan Jarang Beli), Rohana (Rombongan Hanya Nanya-nanya), dan Rohalus (Rombongan Hanya Mengelus). Tidak apa-apa. Suatu saat, ketika kondisi ekonomi sehat, mereka akan membeli. Bukankah promosi bisa berdampak jangka menengah dan panjang? Tanpa lelah, tak putus asa, walau kadang menyisa air mata. Ha-ha. Mari tertawa.[1]
Gumpalan-gumpalan awan hitam perlahan bersembunyi. Langit berganti pakaian dan bergincu sendu; mendung syahdu. Tiada hujan hari ini. Angin belum terkumpul tenaga untuk menggoyang-goyang pinggang-pinggang awan hitam.
Terdengar alunan lagu Jawa dari jajaran pedagang makanan di trotoar jalan. Mereka mendirikan warung tenda terpal atau bekas banner partai gambar caleg; warung bakso Malang, warung lalapan Lamongan, warung nasi campur (rames) Surabaya, warung pecel Blitar-Kediri, dan warung sate Madura (spesial malam).
Mereka semua orang-orang perantauan, yang mengadu nasib, mengaduh hidup, di ibu kota. Sedikit yang sukses. Banyak yang air matanya terus menetes.
Lagi, nada pop campur dangdut koplo “Mendung tanpo Udan” dari Ndarboy Genk merambati telinga-telinga. Membikin pegal linu, flu, dan diare hilang sementara. Seusai goyang, penyakit-penyakit kaum alit itu datang lagi. Pantat tak tahan lagi menampung goyang, yang kencang terus menjangkau engkau.[2]
Mendhung tanpa udan
Ketemu lan kelangan
Kabeh kuwi sing diarani perjalanan
Awak dhewe tau nduwe bayangan
Mbesuk yen wis wayah omah-omahan
Aku maca koran, sarungan
Kowe blanja, dasteran
Nanging, saiki wis dadi kenangan
Aku karo kowe wis pisahan
Aku kiri, kowe kanan
Wis beda dalan
Aku kiri, kowe kanan
Wis beda dalan (sya-la-la-la-la)
Mereka menggerutu. Menangkupkan payung. Berjalan terhuyung.
Ah, sial, gak dapat cuan dah …
Mereka, bocah-bocah berdada baja itu, kemudian, berpencar ke posko (pos komando) utamanya masing-masing. Ada yang mengemis, ada yang jualan air minum botolan, ada yang dagang cemilan, ada yang ngelap kaca mobil, ada yang jualan stiker logo Jakmania, dan ada yang membantu dodolan orang tuanya. Lalu Alfan dan Alfin?
Alfin berlari kencang, menuju sebuah tempat persembunyian gitar kecilnya, di belakang mal. Gitarlele (gitar ukulele senar enam) hadiah hati Rojak, sebelum mati, ditusuk preman yang memalak hasil ngamennya. Selama tiga tahun lebih, Alfin mengamen bersamanya. Awalnya, Alfin kebagian megang kaleng sedekah. Beranjak menjadi gitaris, sebab diajari Rojak yang manis.
Kini, Alfin gitaris dan Alfan kolektor amal.
Mereka berdua berjalan ke arah titik lampu merah (bangjo). Alfin berkaos hijau dan Alfan berkemeja biru kotak-kotak. Tentu pakaian bekas yang murah.
Sebelum melangkah jauh, terlihat Alida berlari-lari kecil, menghapiri Alfin.
“Peli … peli … pismu su … dah … sem … sem … buh?”
Alfin menjawab dengan senyuman paling menawan.
“Kamu ikut?”
“Nga … nga … men?”
“Iya,”
“Untu … tuk … kal … kali in … ini, ti … dak. Ak … ak … u … ma … mau … ban … ban … tu … ibu, jual … jual …an.”
“Oke. Da-da …”
Alfan menyenggol pundak kanan Alfin. Itu adalah kode untuk segera mengakhiri drama.
STOP. Lampu merah menyala. Ratusan kendaraan berhenti.
Alfin memainkan gitar (fingerpicking dan strumming). Dia juga bernyanyi. Alfan mengiringi, backing vokal. Inilah lirik lagu yang disenandungkan keduanya, karya Alfin.
Jadi Payung ketika Hujan
Hu-hu …
Hu-hu …
Hujan turun membawa kenangan
Jiwa gurun dibikin genangan
Angin mengirim dingin
Salahkah iklim? Kita tak ingin
Aku payung ketika hujan
Menghalau ombak air layaknya hutan
Berteduh, seduh hangat pada payung
Biarkan luka aduh terhuyung
Air … … … melompat-lompat
Mengalir ke selokan mampat
Biarkan aku dapat tempat
Ini waktu yang tepat
Jangan membatu
Angan hujan membantu
Aku …
Payung ketika hujan
Da da …
Da da …
Na na …
Na na …
Mobil urutan kedua dari depan garis-garis cat putih, tampak membuka jendelanya, memvideo konser musik itu dengan ponsel iPhone-nya. Seorang perempuan tanggung, seumuran dengan Alfin.