Hujan Tak Berpayung

Syaiful Alim
Chapter #5

Episode 5 Sore yang Mendung, Burung-Burung Bersenandung

Episode 5

Sore yang Mendung, Burung-Burung Bersenandung

 

DI SEBUAH MAL.

 

Sepekan seusai kejadian “menabrak” itu, keluarga Alifia memutusakan untuk membantu persekolahan Alfin. Alifia diutus mamanya menemui Alfin: tugas penawaran. Alifia teramat gembira menerima amanah itu.

Dia memesan mobil secara daring. Sepuluh menit kemudian, mobil New Xpander GLS CVT warna putih mutiara, tiba.

Menjelang sore yang mendung. Jiwa Alifia cerah. Dalam kepalanya, burung-burung bersenandung. Dalam dadanya, kembang menghidangkan nektar bagi kumbang.

 

“Turun di situ saja, Bang.”

“Siap, None.”

“Terima kasih.”

 

Alifia celingak-celinguk ke segala arah. Dia mengingat-ingat pesan neneknya: cari Alfin di sekitar pintu mal. Dia patuh pada pesan neneknya, supaya bernasib baik.

Dia, Alifia, tidak menemukan sosok yang dicari. Dia memberanikan diri bertanya ke salah satu perempuan di situ.

 

“Dik, eh, Kak … mau tanya nih, minta tolong, tahu keberadan yang di video ini?”

“Al … al … fin?”

“Iya, tahu?”

Yang ditanya, menunjuk arah: di sana.

“Ujung jalan trotoar?”

“Iy … iya.”

“Mb … mbak-nya si … si … apa?”

“Temannya …”

Yang ditanya, Alida, agak kaget. Di relung batinnya mengatakan: sejak kapan Alfin punya teman kayak cewek di depannya ini?

“Oke. Terima kasih infonya. Saya beli jajan jualanmu ya. Ini berapa?”

“Go … go … ceng.”

“Ini ceban. Sisanya, ambil saja.”

“Teri … teri … ma … ka … ka … sih.”

 

Alifia berjalan kaki. Ya, berjalan kaki. Mengikuti petunjuk sang gadis tanggung gagap.

Alfin sedang mengambili piring-piring di meja warung. Mencucinya di bak air. Sedangkan bapaknya melayani pembeli.

Alifia melihat Alfin. Alifia melambai-lambaikan tangan kepadanya.

Alifia mengenakan pakaian lengan panjang warna biru. Berpadu-padan dengan rok jeans sampai lutut. Rambutnya dibalut topi rajut biru muda. Kayak gadis Korea.

Alifia masih sempat-sempatnya mematut-matutkan diri dengan cermin mungilnya. Alifia semakin dekat dengan sasaran.

“Alifia?”

“Alfin!”

Alfin begitu kikuk. Bingung.   

“Maaf, maaf, tempatnya begini …”

Sang bapak memahami keadaan. Mengisyaratkan untuk mengajak ke tempat lain yang tepat. Alfin salim dan cium tangan sang bapak. Dan Alifia memunggukkan kepala sedikit sambil senyum pepsodent.

“Ayo kita ke toko buku Gramedia dalam mal. Mau?”

“Tapi pakaian saya begini …”

It’s doesn’t matter. Banyak loh orang kaya yang nge-gembel kalau ke mal.”

“Meski berpenampilan gembel, mereka bawa banyak uang …”

“Tenang. Aku yang mentraktir hari ini.”

“Terima kasih.”

“Aku pesan grab dulu ya”

“Kita naik Bajaj Qute saja. Gimana?”

“Bemo?”

“Pengganti bemo. Bemo sudah dilarang beroperasi.”

“Oh …”

“Gimana cara pesannya?”

“Itu tuh ada yang lewat. Tunggu. Saya hampiri.”

“Alifia, ayo.”

“Baru pertama naik mobil kancil, ya?”

“Iya … seru. Tapi …”

“Kamu kepanasan?”

“Aduh, aku lupa bawa kipas portable …”

“Maaf, Non, mobilnya belum dipasangi AC. Maklum, belum ada uang …”

Sang supir meminta maaf. Dan Alfin meminta sang supir untuk membuka semua kaca jendela.

Alfin kasihan kepada Alifia: keringat membasahi kening dan pipinya.

“Sudah sampai, Non. Sekali lagi, maaf.”

Alifia buru-buru membayar harga sesuai yang disebutkan sang supir. Tidak usah kembalian.

Alifia berjalan cepat menuju pintu mal. Alfin tersenyum belaka. Memang beda orang kaya dan orang melarat dalam menyikapi panasnya dunia. Orang melarat, menahannya hingga menyatu, menjadi sahabat. Orang kaya terguncang hebat, berusaha keras menolaknya dengan berbagai cara.

Langit memang sedang tidak menurunkan hujan. Kalau hujan, berabe naik Bajaj Qute. Untung aje.

Kita cari es krim atau minuman segar-dingin dulu sebelum ke lantai dua.

Alifia memilih Chatime x Cupbop. Sebab ada fasilitas dine-in dan menu makanan-minumannya menggoyang lidah dan tengorokan yang kerontang.

 

Hazelnut Chocolate Milk Tea & Tokpokki

 

“Kamu dan bapakmu berani ya jualan di jalan trotoar …”

“Kami semua adalah petarung, Alifia …”

“Gak pernah dirazia satpol PP?”

“Ha-ha sering … gerobak diangkut …”

“Hah? Dikembalikan?”

“Kalau punya uang untuk nyogok petugas, ya dikembalikan …”

“What?”

“He-he … kamu bersamaku sehari saja, akan berapa kali bilang what, nanti?”

“He-he …”

“Saya dewasa sebelum waktunya, Alifia, karena kerasnya hidup.”

“I see …”

“Oke. Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu merepotkan diri begini?”

“Mmm … Alfin … kamu benar tidak sekolah atau putus sekolah?”

“Yang pertama.”

Lihat selengkapnya