Hujan Tak Berpayung

Syaiful Alim
Chapter #9

Episode 9 Bandung yang Mendung

Episode 9

Bandung yang Mendung

 

DI SEKOLAH.

 

Alfin Zed sudah kelas sebelas. Dua tahun jadi bintang pelajar. Meski kesusahan membagi waktu antara belajar dan kerja. Dia hanya ikut ekstra olimpiade matematika. Satu saja.

Sejak sekolah, Alfin punya kerjaan baru, sebagai tukang pemasok barang bekas atau rongsok ke Pak Sakera. Alfin menemukan peluang dari gudang sekolah; tumpukan kardus dan kertas. Bahkan menggunung nan bau. Alfin melobi wakil kepala sekolah bagian sarana-prasarana dan tukang sapu/pegawai kebersihan.

 

Bapak cukup memberi izin, dan dapat komisi lumayan.

Kalau sebelumnya sudah ada yang ngangkut, saya ambil dengan harga lebih tinggi.

 

Jadilah, jadilah dia pebisnis barang bekas/rongsok. Dia menyewa pikap setiap mengambil ke sekolah-sekolah dan perkantoran. Akhirnya, dia bisa beli handphone. Dan mahir nyetir mobil. Berkah belajar dengan sang supir pikap.

Kali ini, ini waktu, dia tampak lesu, lesung pipinya tak kelihatan, bibirnya membisu. Di bawah pohon ketapang kencana yang laksana payung hijau.

Alifia datang, mengagetkan lamunan.

 

“Fin, kenapa sih hari-hari ini, kamu kelihatan jemu. Gak kayak biasanya. Ada apa sih? Aku ada salah? Atau temanku, nyakitin kamu?”

Hanya kepada Alfin, Alifia tidak pernah memakai panggilan Jakarta’an; lu, elu, lo, elo, gua, gue, bokap, nyokap. Sejak pertemuan awal, Alfin memang sudah memagari diri dengan berbahasa Indonesia yang baik dan benar alias berbahasa formal. Apa terpengaruh buku bacaan? Terutama buku puisi?

“Atau Ansel berulah lagi?”

“Sudah biasa. Tidak pernah kutanggapi. Meski sebenarnya, aku sakit hati.”

“Kamu dipermalukan olehnya dengan pernyataan ‘pengamen tidak boleh sekolah’?”

“Ah, tidak mengapa. Dia memang benar. Tapi, kebenaran itu tidak obsulut. Satu sisi, dia benar. Sisi lain, aku juga punya kebenaran. Jadi, ejekan dan olokan dia begitu, kubiarkan. Nanti lelah sendiri dia …”

“Lalu?”

“Aku tidak mau membawamu ke dalam masalahku, Alifia …”

“Masalahmu dengan Ansel, belum berakhir?”

“Entah. Tapi apa sebabnya dia terlalu membenciku?”

“Ansel putra seorang pejabat teras. Dan juga idola cewek-cewek. Sejak kamu datang, dia mulai agak tergeser. Wajar sih …”

“Lalu, ini salahku secara mutlak? Kenapa kamu menormalisasi, menganggap itu hal yang wajar?”

“Alfin, pentingkah ini buat kamu?”

“Bukan begitu. Sampai kapan aku dijahilin terus? Apakah aku tidak boleh memberi perlawanan? Apakah karena dia anak pejabat, kemudian seenaknya nyakitin orang, membully teman, merundung semaunya?”

“Dia punya segalanya, Alfin. Tidak akan pernah ada seorang pun yang menang menghadapinya. Kamu tahu sendiri, Keenan, anak kelas sebelah, dilaporin ke polisi olehnya. Padahal cuma terjadi kesalahpahaman tentang kegiatan pentas seni …”

“Kenapa kamu selalu membelanya, Alifia?”

“Kenapa kamu kok sensi melulu?”

“Apa karena kamu dekat denganku, dia begitu kepadaku?”

“Aku sekadar sahabat, tidak lebih!”

“Itu menurutmu. Bisa beda dalam pandangannya, Alifia!”

“Ah, sudahlah. Aku capek bahas begituan …”

 

Satu-dua rumput kering jatuh dari sela-sela batang pohon. Potongan rumput kering yang diluruhkan burung ketika membikin sarang.

 

“Sebenarnya, yang lebih merisaukan aku, adalah …”

“Adalah …?”

“Ibuku … ibuku … ibuku …”

What do you mean, Alfin?”

“Keberadaan ibuku, Alifia …”

“Maksudnya gimana?”

“Aku ditinggalkan sejak bayi. Ditinggalkan begitu saja …”

“Termasuk kakakmu, Alfan?”

“Bukan. Dia bukan kakak kandungku.”

“What?”

Lihat selengkapnya