Hujan Tak Berpayung

Syaiful Alim
Chapter #10

Episode 10 Ansel Zavier

Episode 10

Ansel Zavier

 

DI SEKOLAH.

 

Selepas kelas ekstra olimpiade IPS, Alifia melangkah cepat ke kelas olimpiade Matematika Alfin. Di kepala Alifia, ada tungku dan kayu bakar. Di dadanya, duri-duri mawar menjalar. Di bibirnya, ular beracun melingkar.

Alfin keluar kelas, bergegas ke rak sepatu.

Alfin melihat Alifia. Menyapanya: hello, Fia.

Tak ada sahutan. Alfin menghampirinya.

 

“Ternyata, lu sama jahatnya. Untung gua sadar. Pantesan, anak-anak di kelas ghibahin julidin gue. Meski bukan mama gua yang membiayai elu, melainkan dinas sosial, gak perlu lah elu membocorkan rahasia-rahasia ke teman-teman. Aku malu. Malu. Malu. Elu yang sudah kuanggap lebih dari teman, malah berniat buruk kepada gua …”

Alifia berhenti sebentar dari nyerocosnya. Mengambil nafas. Baru kali ini, Alifia menggunakan sebutan lu, elu untuk Alfin. Ada apakah? Alfin bingung. Tapi percuma meladeninya. Dia menggenggam kuat bukunya.

“Lu sudah puas merusak reputasi gua? Begitu teganya lu ke gua? Gak habis pikir gua. Gua sangka lu anak baik. Ternyata busuk. Mentang-mentang lu punya nama? Anak pintar? Anak multitalent? Lu semena-mena menghancurkan gua … “

Alfin menatap mata Alifia. Tapi matanya mengalihkan pandangan ke yang lain.

“Maksudnya apa sih, Fia?”

“Jangan sebut nama gua!”

“Kita pindah. Gak enak dilihatin banyak kawan …”

“Biar! Bodo amat!”

Alfin menggamit tangan Alifia. Membawanya ke bawah pohon yang tersedia kursi panjang. Dan memintanya untuk duduk. Alfin di sampingnya.

“Perihal pembiaayan, aku udah tahu. Aku diberitahu Bu Rupiah, bendahara sekolah. Lalu, pembocoran rahasia. Rahasia apa? Merusak reputasimu?”

“Bukankah kamu (berganti kata sebutan) yang ngasih tahu ke teman-teman bahwa aku sering dapat nilai seratus karena contekan kamu?”

“What! What is going on, pleae, Alifia?!”

“It’s true or not?”

“Sampai kiamat pun, aku tidak akan menyampaikan rahasia itu. Kepada siapa pun! Bagiku, janji dan rahasia, adalah kehormatan. Tidak mungkin aku merusak keduanya!”

“Lalu, siapa? Siapa? Siapa?”

“Coba ambil nafas. Hembuskan perlahan. Ingat-ingat. Kamu pernah keceplosan mengatakan itu, mungkin ketika ngerumpi sama teman-temanmu …”

“Tuhan, oh Good! Zoey Arabelle …”

“Sahabatmu itu?”

“Iya …”

“Coba telepon atau kirim pesan what’sApp untuk konfirmasi …”

Sebelum Alifia melakukan saran Alfin, Zoey berkirim pesan dulu: Fia, pasti elu lagi marah. Temui gue di tempat biasanya. Gue tunggu.

Gila! Kenapa sahabatku sendiri pelakunya! Padahal aku baik sama dia!

“Pesan dari siapa?”

Lihat selengkapnya