Episode 11
Bagai Kabut di Lereng Gunung Sindoro
The club isn’t the best place to find a lover
So the bar is where I go (mm)
Me and my friends at the table doing shots
Drinking fast and then we talk slow (mm)
Come over and start up a conversation with just me
And trust me I’ll give it a chance now (mm)
Take my hand, stop, put Van the Man on the jukebox
And then we start to dance, and now I'm singing like
Girl, you know I want your love
Your love was handmade for somebody like me
Come on now, follow my lead
I may be crazy, don’t mind me
Say, boy, let’s not talk too much
Grab on my waist and put that body on me
Come on now, follow my lead
Come, come on now, follow my lead, mm
Come on, be my baby, come on
Come on, be my baby, come on
Come on, be my baby, come on[1]
KELAB MALAM.
Alfan dan De Bigundal Jono-Joni di kelab karaoke dan bar. Berpesta. Hasil penagihan bulanan sesuai target.
Alfan menyingkir dari kerumunan orang berjingkrak-jingkrak oleh ombak suara Electronic Dance Music (EDM) dari seorang DJ (Disk Jockey). Gemerlap lampu pelangi, menyala dan mati bergantian, susul menyusul. Kepulan asap rokok bagai kabut di lereng gunung Sindoro atau Arjuna.
Alfan bertanya kepada seorang bartender yang sedang meracik minuman. Bartender cewek tomboi itu menunjukkan suatu tempat; lu lurus, belok kanan, mentok.
Alfan mengikuti arahan sang bartender yang bertindik hidungnya itu. Sembari merokok, Alfan melenggang. Benar, ada ruangan yang agak lengang, meski partikel suara musik yang boros masih leluasa menerobos.
Alfan menonjok-nonjokkan nyala rokoknya di asbak meja. Padam. Duduk. Mengambil ponsel. Menelepon nomor yang beberapa hari lalu diterimanya dari yunior De Bigundal.
Kalau elu masih gangguin Alfin lagi, gue gak segan-segan bocorin kebusukan bokap elu ke media. Nyokap elu! Jangan belagu. Itu lagu lama. Harta bokap lu itu banyak najisnya. Perilaku nyokap elu, menjijikkan! Lu mau nyuciin? Lu mau nyebokin? Ingat, masa depan bokap-nyokap elu ada di tangan elu! Paham!