Episode 13
Apakah Kita Membiarkan Hujan yang Menghunjam?
Never look back, never look back, never look away
If freedom comes and goes, you know I’ll still be waiting[1]
I′m in serious shit, I feel totally lost
If I′m asking for help, it’s only because
Being with you has opened my eyes
Could I ever believe such a perfect surprise?[2]
Alfan dan Alfin, keduanya sibuk. Meski begitu, keduanya bersepakat mengadakan pertemuan di sekitar mal, tempat yang telah lama ditinggalkan, untuk menadah uang recehan sebagai ojek payung.
Alfin menengok jam tangannya. Kurang setengah jam menuju pukul 16.16 sore. Dia masih mengenakan seragam sekolah. Selepas mengirim kardus dan kertas bekas dua pikap ke Pak Sakera. Sebelumnya, membeli seember ikan sapu-sapu dari Mang Mulyadi untuk bapaknya. Sebenarnya, dia ingin melobi Mang Dedy; tetapi Mang Dedy tetap bersikukuh tidak menjual ikan sapu-sapu (harapan Alfin, diberi secara gratis). Bahkan Mang Dedy bersumpah, “Diberi harga tinggi pun, saya tidak akan lepas ikan sapu-sapu ini. Lebih baik saya kubur hidup-hidup. Ikan predator dan perusak ekosistem air!” ternyata, masih ada orang idealis, bisik batin Alfin. Tidak menggadaikan prinsip dengan bujukan rayuan. Betapa berat nian? Sementara ini, Alfin realis. Dia memberi komisi kepada siapa saja yang membantunya dalam bisnis.
Alfan menilik informasi penanda waktu di ponsel barunya. Kurang setengah jam menuju pukul 16.16 sore.
Dia seusai melakukan penagihan kepada juragan beras, juragan ikan laut, bos sepeda listrik, bos counter ponsel, dan mengambil setoran uang parkir beberapa pasar. Sedikit ada masalah, namun bisa diatasi dengan sabetan pisau sekali-dua kali. Darah memercik ke kemeja kotak-kotak biru bagian depannya.
LANGIT Jakarta menampilkan wajah abu-abu kehitaman, gelap menggumpal-gumpal. Hujan segera turun. Anak-anak berserakan bersiap menyewakan payung-payung. Haus akan cuan, laksana musafir merindukan air di gurun.
Alfan dan Alfin sudah datang. Keduanya tidak sempat berganti pakaian. Keduanya seiya-sekata memberikan kedua payungnya kepada Alida dan Zaim. Kasihan, payung Alida dan Zaim sudah banyak bolongnya.
Alfan dan Alfin berdiri di tempat lapang. Saling menatap. Seolah pegulat SmackDown hendak bertarung di ring yang murung.
HUJAN. DERAS sekali.
Mereka berdua tetap bersitatap.
Tidak meratap atas hujan.
Menikmati runcing-runcing pucuk hujan.
Menghikmati kenangan.