Episode 16
Ajeng Zulaikha
how many roads to arrive at a kiss,
how much misguided solitude to find you![1]
I hunger for your mouth, your voice, your hair,
and I go through the streets starving, silent,
bread does not sustain me, the dawn drives me wild,
I search for the liquid sound of your steps in the day.[2]
Alfan menyewa homestay. Jam dinding besar di kamar putih, menunjukkan pukul 20.20 malam. Kurang 40 menit lagi sesuai kesepakatan. Dia gusar. Tak terhitung berapa kali mengecek penanda waktu di ponsel. Dia berdiri di depan cermin. Dia duduk. Dia berbaring di ranjang. Dia membasuh wajah di wastafel depan kamar mandi. Dia menyulut sebatang rokok. Dia menyalakan televisi. Dia menggilir sosial media; menggulir instagram, menggulir tiktok.
Tok-tok. Suara pintu terketuk. Alfan terbatuk. Untuk mengabarkan bahwa kamar berpenghuni. Dia tegang, memegang gagang pintu, memutarnya ke kiri. Terbuka. Lama, Alfan lama mematung. Matanya tak berkedip. Dia terperosok cahaya?
Sesosok perempuan yang dibalut baju cekak-rok pendek merah (Bodycon Dress). Rambut hitam tergerai. Suaranya murai di pohon sekitar ngarai. Boleh masuk?
Alfan mempersilakan. Perempuan itu duduk di depan cermin rias. Menaruh tas mungil merah. Meletakkan jam tangan kecil keemasan. Di meja. Dia mengepaskan dandanan; alis hitam menyatu bagai Jerman Timur dan Barat, bulumata lentik melengkung, pipinya putih bakung, dan bibirnya merah cherry. Semuanya ori.
Inikah perempuan yang melahirkan Alfin? Perempuan bagai morfin.
Alfan kikuk. Dia tidak tahu apa yang harus diucap atau diperbuat. Mulutnya laksana tersumpal penekuk dan kakinya serasa tertekuk. Perempuan merah itu duduk di ranjang. Memandang Alfan.
“Bang Jono?”
Alfan lupa mengubah nama pemesan. Bang Jono masih menjadi inisial. What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet, apa arti sebuah nama? Andai kita menyebut mawar dengan nama lain, ia tetap akan beraroma wangi.[3]
“Iya, Jono … bisa juga Alfan …”
“Kamu tampak masih muda.”
“Iya … iya.”
“Ada air minum?”
“Ada … ada …”
Alfan menuju kulkas kecil. Mengambil satu botol minuman dingin. Kemudian memberikannya.
“Mau ngobrol dulu? Atau tancap gas?”
“Iya … iya …”
“Ngobrol dulu?”
“Iya … iya …”