Episode 17
Apakah Kita Rida pada Hujan yang Tak Kunjung Reda dan Rada Gila?
Thought I found a way
Thought I found a way out (found)
But you never go away (never go away)
So I guess I gotta stay now
Oh, I hope someday I’ll make it out of here
Even if it takes all night or a hundred years
Need a place to hide, but I can’t find one near
Wanna feel alive, outside I can’t fight my fear[1]
DI RUANG JAGA PASIEN.
Alifia tidak sekolah. Menjaga sang nenek kesayangan. Bergantian dengan mamanya dan Bik Shoimah. Mamanya tidak bisa lama. Kerjaan mengejarnya.
Alfin, selepas sekolah, membantu bapaknya, dan menyelesaikan usaha kirim barang rongsok ke Pak Sakera, kemudian menemani Alifia mulai sore hingga pagi. Hujan tak kunjung pergi.
Alifia tidak doyan makan; baik makanan dari Bik Shoimah maupun dari pesan online. Alfin membujuknya dengan berbagai cara. Akhirnya bersedia. Alfin menyuapinya sembari mengembalikan wajah gemesnya.
“Tidak ada makanan tersantap, akan meratap. Bagaimana bisa menjaga nenek? Menunggui nenek juga perlu kesehatan. Iya, kan?”
“Iya …”
“Kalau sakit semua, siapa yang jaga nenek?”
“Iya …”
“Kalau kamu demam-flu, siapa yang repot?”
“Iya … kamu.”
“Kalau aku ketularan, siapa yang merawat?”
“Iya … aku.”
“Bo’ong. Kan kamu juga sakit …”
“Iya … saling merawat …”
“Apakah bisa?”
“Iya … bersatu bikin kuat.”
“Siapa yang sembuh duluan?”
“Iya … bersama.”
“Aku maunya duluan …”
“Jahat!”
“Supaya aku merawatmu lebih. Bukti bakti padamu.”
“Jahat!”
“Jahat?”
“Bagaimana?”
“Mau aku sakit lebih lama?”
“Tidak. Maaf … ini kusuapin lagi …”
“Mmm …”
“Jadi teringat Sindrom Munchausen …”
“Itu apa?”