Episode 18
Setelah Tujuhbelas Tahun tanpa Payung
DI RUANG TUNGGU PASIEN RS.
Malam belia. 19.19.
Kini, penjaga nenek ada tiga kepala, karena Zoey datang. Dia membawa sekeranjang parcel buah, sekeresek penganan, dan segenggam cerita. Alfin meminggirkan diri di sofa yang lain. Sebab sofa utama dikuasai dua wanita. Setiap ada dua wanita yang sefrekuensi, maka dunia lebih berwarna dan tinggi tensi.
Alfin mendengarkan obrolan – lebih tepatnya ghibah atau gosip – mereka berdua; mulai gosip artis hingga harga lipstik, dari ghibah Ansel sampai cogan gebetan, dari spaghetti sampai boti, bermula film hingga kafe, dan isu-isu pengganti guru Matematika dan BK. Ini upaya Zoey menipiskan kesedihan Alifia.
“Elu udah tau gak kalau si Ansel lagi pacaran ama Zilpha?”
“Kabarnya sih gitu …”
“Sebenernya elu pernah ditembak Ansel gak sih?”
“Pernah …”
“Elu tolak?”
“He’em …”
“Tepat. Gua juga dungu kenapa dulu bucin dengannya. Baru dua pekan jalan, otoriter banget and NPD (narcissistic personality disorder) …”
“Meski gitu, yang muja dan pengen jadi pacarnya masih antre panjang …”
“He’em. Kalau belum merasakan, tidak bisa bersuara …”
“Tapi wajar sih si Ansel dibucini para siswi; ganteng dan tajir …”
“Ha-ha. Gimana dengan cowok yang sedang membaca buku itu?”
“Ha-ha. Sebenernya nih, kalau dia terawat, gak kalah cakep ama si Ansel. Buktinya, sekarang agak cerah. Dulu elu tau kan, dekil banget …”
“Ha-ha. Iya, pertama lihat video nyanyinya di stopan itu …”
“Ha-ha. Memang dia miskin, tapi pekerja keras. Itu yang gua suka. Karena banyak cowok kere, plus pemalas. Dia beda. Lu tau sendiri, dia gak pernah istirahat kecuali malam untuk tidur. Kesehariannya hanya belajar dan kerja …”
“Ha-ha. Makanya elu dianggurin ya?”
“Ha-ha. Gua udah paham dia. Sebenarnya, dia romantis, cuma dalam bentuk lain. Lebih ke arah bertanggungjawab …”
“Gila! Langka!”
“Kasihan dia …”
“Kenapa?”
“Ibunya …”
“Kapan kita searching lagi?”
“Katanya, nunggu nenek gua baikan …”
“Benar-benar beda dia. Dalam kesulitan, dia masih mikirin nasib orang lain …”
“Pindah tema ah. Kalau dia dengar, bisa besar kepala …”
“Ha-ha. Dia dengar kagak?”
“Kalau udah baca buku, dia kagak dengar apa-apa …”
“Mmm … elu apain supaya dengar?”
“Biasanya gua pegang tangannya. Gua ringkes bukunya …”
“Ha-ha. Dia kayaknya calon mantu idaman nenek elu ya?”
“Ha-ha. Klop sama nenek …”
“Duh. Kok gosipin dia mulu … ganti tema ya … dari artis lokal ke global … Gong Hyo Jin dan Ryu Seung Bum, meski pacaran selama 10 tahun, akhirnya kandas.
Se7en dan Park Han Byul malah 12 tahun hubungan, berakhir …
Jung Kyung Ho dan Sooyoung SNSD, kayaknya harmonis, eh putus juga percintaan mereka yang 14 tahun …”
“Itu berarti lamanya hubungan, tidak menjamin kelanggengan …”
“Lah, lalu gimana dunk?”
“Gua juga kagak tau … like mystery …”
“Benar juga sih … eh eh lu setuju kagak kalau para boti di sekolah kita dikirim ke barak militer?”
“Ha-ha. Sekalian dikirim jadi tentara partikelir di Papua …”
“Ha-ha. Ayuk dimakan cemilan bawa’an gua …”
“Siapa gebeten elu, now?” tanya Alifia seraya ngemil.
“Cowok kelas sebelah. Elu tau gak yang namanya Zulo? Tinggi, hitam manis. Meski bukan tipe gua sih. Sementara ini, dia yang paling ngerti’in gua …”
“Zulo, anggota tim basket?”
“He’em …”
“Bungkus saja dah …”
“Ha-ha …”
Alfin dengan gaya serius yang santai, menikmati buku kumpulan cerpen Perantau karya Gus tf Sakai. Lima cerpen telah dilahapnya, kemarin. Dan memasuki cerpen keenam, berjudul Belatung.[1] Otak Alfin bertraveling; serbuan tanya menggantung. Mata dan pikirannya seolah tersedot terowongan pengetahuan, misalnya dot com. Ribuan hewan kecil laksana cacing cebol atau ramping, menggeliat-geliat, melumat-lumat sampah dobol atau daging busuk.
Belatung itu seperti ulat ya, Bu? Ya seperti ulat. Apakah ia juga bisa berubah jadi kupu-kupu? Tidak, belatung tak bisa berubah jadi kupu-kupu. Kenapa tidak bisa, Ibu? Entahlah, Ibu tak tahu. Kasihan ya, Bu? Aku ingin melihat ia jadi kupu-kupu. Tetapi kita tidak bisa. Tapi aku ingin.
Tidak bisa.
Aku ingin.
“Tidak bisa…,” dan Warni melihat ratusan belatung, ribuan belatung, merayap melata ke arah mereka. Melata? Tidak, makhluk kecil basah menjijikkan itu lebih tampak seperti melayang (atau terbang?) dalam satu barisan teratur mirip selendang. Saat selendang itu bergerak sentak bagai dikibaskan, belatung-belatung itu berhamburan bersama percikan lendir. Dan Warni gelagapan. Tangannya sibuk: membersihkan lendir, mungkin juga belatung, yang menempel di wajah dan tubuhnya.
Aku ingin.