Episode 19
Ketika Zulaikha Terluka
Sejak kanak, Zulaikha tinggal bersama bude (tante) dari jalur ibu, karena orang tuanya berpisah. Setelah perceraian, bapaknya merantau ke luar Jawa, dan meninggal di sana. Ibunya, ibunya menjadi TKW (tenaga kerja wanita) di Saudi. Kabarnya, bunuh diri seusai digagahi majikannya.
Zulaikha, yatim-piatu. Mengetuk pintu-pintu saudara ayah-ibunya. Terbukalah tangan budenya.
Zulaikha sekolah jenjang dasar (SD) sambil membantu pekerjaan konveksi atau usaha bordir keluarga budenya. Suami bude (pakde, paman), seorang penjahit profesional. Budenya dan Zulaikha bertugas belanja kain, mengukur, memotong, dan membersihkan kain-kain sisa. Selain itu, Zulaikha mengirim hasil jahitan kepada para pelanggan dengan sepeda ontel.
Kesialan itu datang bagai pedang di padang perang. Lelaki, anak budenya yang pengangguran, menyergapnya selepas Zulaikha membersihkan badan, masih memakai handuk di depan kamar mandi.
Zulaikha yang memang dielu-elukan oleh tetangga dan warga, laksana perempuan istri nabi Sulaiman. Zulaikha yang membikin iri-dengki anak-anak perempuan lainnya. Zulaikha yang membuat berahi lelaki menggeliat-geliat, seperti cacing sangat disengat matahari pukul duabelas siang tepat.
Zulaikha meronta. Zulaikha meminta pertolongan. Tak terdengar. Sebab bibir delimanya dibekap. Pakde dan budenya sedang keluar rumah, menghadiri undangan pernikahan saudara (buwuh). Hari menjelang maghrib. Langit warna jeruk valencia. Sebentar lagi, akan raib ditelan yang gaib.
Zulaikha meradang. Kakinya menendang-nendang. Tubuhnya yang sejernih udara subuh dibopong ke kamar lelaki itu. Mungkin, Tuhan mendengar ronta mintanya, dia menggapai gunting pemotong kain; besar, panjang, runcing, dan tajam.
Tangan yang bergetar itu, menujahkan gunting ke leher kiri lelaki itu. Zulaikha terlepas. Lelaki itu kesakitan dahsyat. Zulaikha berlari ke kamarnya. Mengunci pintu. Dan menggeret dipan kayu ranjangnya ke depan pintu. Pengaman berlapis.
Zulaikha mengemasi uang tabungan dalam kaleng susu dan pakaiannya ke tas. Seadanya. Sebisanya.
Zulaikha membuka lebar jendela kamar. Jantungnya berdebar-debar. Dia berlari, berlari, dan berlari. Dia sampai di pangkalan ojek motor. Dia menuju rumah temannya, Suyati. Yang nanti, menjadi istri Pak Gafar.
Suyati yang usianya lebih tua, mengajak Zulaikha merantau ke Jakarta. Berbekal pengalaman membantu usaha pamannya, dia bekerja di sebuah pabrik konveksi atau garmen.
Entah mitos atau fakta, sering terjadi skandal antar buruh pabrik, terutama yang bekerja sistem sift atau lembur. Mereka punya dua kekasih; satu di rumah dan satunya di tanah rantau (pabrik). Untuk memperpanjang kontrak kerja, ada yang staycation bersama atasan (bos) sebagai syarat.
Zulaikha yang sarat daging domba, senantiasa menjadi dambaan dan incaran para serigala dan hyena. Para pekerja yang terpesona, ribut berebut mendapatkan kemolekannya. Tak ketinggalan, bos perusahaan.
Zulaikha yang hijau limau tergoda oleh palugada (apa yang lu mau, gua ada) sang bos. Zulaikha tertawan, sang bos tertawa.
Karena bujukan janji akan dijadikan istri kedua bos, Zulaikha menyerahkan “Surga” yang paling berharga dalam dirinya. Staycation bareng bos di hotel bintang lima. Sudah kodratnya serigala, tak cukup makan daging rusa sekali. Zulaikha dilahapnya tahap demi tahap.
Janji bos itu tingggallah kata yang menguap bagai asap rokok ke udara. Menyesakkan dada Zulaikha. Dia berbadan dua.