Episode 20
Dan Duka Maha Tuan Bertakhta[1]
In the end, everything just turns back
Turns back into
Dust to dust, our bones will rust
And we shall start again
Dust to dust, our bones will rust
And we shall start again
Now take it in and behold
I don’t seek right or wrong, I seek the
Truth found in death
Goes hand in hand with remorse
Is it something that is worth losing?
Worth pursuing?[2]
Sepulang sekolah, Alfin menon-aktif-kan sementara kegiatan ekstra matematikanya dan side jobnya. Dia menemani ibunya di homestay.
Alfan melobi Lady Diyana, bagaimana membebaskan ibunya Alfin dari jeratan jeritan gurita malam. Dalam ruangan semi tertutup di bar langganan, suara histeria dari panggung utama masih terdengar, sayup-sayup.
“Lu datang pada saat tepat. Sepekan lalu, dapat tiga new comers. Muda, menggoda, ada yang masih pered …”
“Lalu?”
“Lu tinggal bayar 30 juta. Beres!”
“Kagak bisa kurang?”
“Lu tanya begitu, malah gua tambahin!”
“Oke.”
“Lu punya waktu maksimal dua minggu. Kalau tidak, selamanya gak gua lepas!”
Lady Diyana pergi, diiringi kepulan asap rokok dari bibir merah darah tikus got. Alfan berpikir, harus menjawab: go or not?
Alfin makan bersama ibunya. Kadang sang ibu menyuapi Alfin. Dalam segi penampilan, ibunya mengalami perubahan; dari pakaian seksi ke pakaian sopan. Lekak-lekuk tubuh serupa gitar spanyol, tak kelihatan. Wajahnya dibiarkan apa adanya atau sekadar dikuas bedak setipis tisu dibelah tujuh, tapi keindahannya tak kuasa dilunturkan angin topan.
“Ibu, jangan tinggalkan aku, lagi …”
“Tidak. Selama setelah kamu maafkan …”