Episode 21
Selepas Kepergian Nenek
Berjalan di belakang jenazah, angin pun reda
jam mengerdip
tak terduga betapa lekas
siang menepi, melapangkan jalan dunia[1]
DI PEMAKAMAN.
Pagi yang cerah. Walau gerombolan awan, nanti jam 12 siang, menggelap. Mayoritas para pelayat di makam nenek, mengenakan pakaian hitam, dan membawa payung, upaya siaga disergap hujan mendadak.
Acara pemakaman berjalan hikmat. Dihadiri ratusan pelayat. Dari keluarga besar nenek, perwakilan rekan kerja (pensiunan), tetangga kompleks, teman-sabahat Alifia, dan yang tak terduga, berasal dari teman-teman pejuang literasi yang rutin dibantu nenek semasa hidupnya.
Alifia menaruh kerudung hitam di atas rambutnya, serupa model putri-putri Gus Dur dalam berjilbab. Wajahnya masih sembab. Sebab kepergian sang nenek meninggalkan genangan kenangan bab demi bab.
Seorang berseragam polisi, yang datang terlambat, menghampiri Alifia dan mamanya, mengungkapkan bela sungkawa, “Papa turut berduka atas wafatnya nenek,” ucapnya kepada Alifia.
“Makasih, Pa …”
Di sisi lain, mama Alifia enggan menatap lelaki itu. Apakah sembilu belum berlalu? Sembilu yang mengiris-iris jiwanya beberapa tahun lalu. Yang membikin dia nyaris bunuh diri. Betapa pedih hati disakiti. Pada akhirnya, perpisahan sebagai langkah terakhir. Dan sang mantan suami telah beristri lagi. Sedangkan dirinya, masih menyembuhkan luka trauma, yang entah kapan tuntasnya. Adakah yang lebih sakit dari pengkhianatan?
“Papa ada keperluan di Jakarta, kalau Fia perlu, WA saja. Papa sayang kamu,”
“Makasih, Pa …”
Lelaki gagah itu kemudian pergi, termasuk para pelayat lainnya, berangsur sepi. Alfin berjalan di samping kanan Alifia dan mamanya. Dan Zoey di samping kiri. Keluar area pemakaman, Zoey dan teman-temannya berpisah menuju mobilnya masing-masing. Alfin menyupiri Alifia dan mamanya.
***
DI HOMESTAY.