Episode 22
Pembebasan
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam[1]
Alfan membolak-balikkan badan dan pikirian di ranjang kamar berukuran 3 x 3, di markas (pangkalan/posko) De Bigundal, yang letaknya agak tersembunyi di dalam pasar. Sekilas tampak depan, adalah toko atau konter handphone, yang memang terjadi jual-beli. Tapi, setelah melewati sekat pertama, terdapat pintu yang menuju ruangan luas, yang mampu menampung puluhan orang. Laksana gabungan antara rumah dan ruang perkantoran; ruang lobi, ruang rapat, aula, dapur dan meja makan, kamar mandi, kamar tidur, ruang main billiard, dan area gym.
Markas De Bigundal tidaklah permanen. Kadang melakukan strategi nomaden seusai penggerebekan polisi. Kadang dibikin siasat, membuat markas pusat dan cabang.
Alfan menyulut rokok. Tiga asbak telah kebak (penuh). Pikirannya seolah orang yang pecah perahu karena hantaman lembing ombak, terombang-ambing, berteriak memanggil pertolongan, dan terdampar di emperan laut. Tenggorokan kering. Tubuh penuh keringat. Perut keroncongan sangat.
Malam insomnia. Mata telah dipejam-pejamkan, pikiran tetap melayang-layang. Alfan berdiri, beranjak dari kamar tidur. Keluar markas. Meninggalkan teman-temannya yang sedang main billiard dan nenggak miras.
Mencari minuman kaleng di toko yang nama belakangnya mart atau maret. Duduk di kursi teras toko. Mengisap rokok. Menyudut-nyudutkan ujung rokok di asbak. Melempar kaleng minuman. Mengenai dua ekor kucing yang sedang berseteru. Melangkah lagi.
Jalanan sudah tidak macet. Pesan ojek online. Menuju tempat kos perempuan yang telah dianggap kekasih, sang bartender. Berharap kekasih sudah pulang.
Tempat kos di perkampungan padat. Gang demi gang terlewati. Sampai, sampailah Alfan di kompleks kos milik Kaji Bahlil. Kaji Bahlil memiliki kompleks kos seratus pintu, ukuran 3 x 4 m2, dengan kamar mandi dalam. Tak ada aturan ketat. Lelaki dan perempuan boleh ambil tempat. Berkeluarga atau single, bebas tinggal, asal bayar rutin bulanan; jika tidak, siap dibogem preman piaraan sampai muntah darah atau terseret ke UGD, atau bahkan digeletakkan di pinggir jalan raya.
12.12 malam.
Kali ini, Alfan bertanya-tanya dalam hati, mengapa terparkir motor vario merah di depan kos kekasihnya, Zura. Alfan membuka pintu dengan kunci cadangan – dia memang diberi oleh Zura –. Betapa terperanjatnya dia, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, kekasihnya bergumul mesra dengan lelaki lain di ranjang.
Dada dan tangan Alfan yang telah preman, mengejang. Tanpa pikir panjang, dia hampiri mereka berdua. Zura dan lelaki beraroma alkohol itu terkaget-kaget. Zura cepat-cepat menutupi tubuhnya dengan kain selimut. Dan lelaki itu hanya bercawet imut.
Alfan mencekik leher lelaki itu. Didorongnya ke tembok. Ditaboknya berkali-kali. Lelaki itu mengucap ampun. Memohon-mohon untuk tidak dipukuli.
Pergi atau mati?