Episode 24
Dor! Dor! Dor!
MALAM dengan cahaya bintang-bintang yang redup. Angin tak hinggap di daun-daun dan ribuan bendera partai yang terpasang di dada-dada pohon dan sepanjang jalan kota dan kampung. Mengepung mata. Merusak estetika dan bisa bikin orang celaka.
Alfan berlari, berlari, dan berlari. De Bigundal Jono dan Joni mengejarnya. Mengejar orang kepercayaannya. De Bigundal Jono dan Joni telah mengetahui kecurangan Alfan; menagihi target sebelum tenggat waktu dan hasilnya digondol sendiri.
Sementara, di rumah Alfin, sedang merayakan kebahagiaan dan kebersamaan. Berbagai makanan-minuman terhidang. Makanan-minuman yang jarang atau bahkan belum pernah dinikmati keluarga Alfin.
Kentang goreng, ayam goreng, steak daging, gamja-hotdog, kimchi, bulgogi, jjajangmyeon, tteokbokki, kimbap, minuman bersoda, dan es krim.
Selain ayam goreng, Alfin tidak berselera. Berbeda dengan Alida, semua makanan disantapnya. Alifia tersenyum-senyum menyaksikannya.
“Alfin, dicoba dong tteokbokki-nya. Enak lho …” Ibu Alfin membuka petualangan makan anak lelakinya.
“Sekali-kali dicoba saja, Fin … nanti bisa ketagihan lho …” Pak Gafar menimpali sambil mengambil bulgogi.
“Kalau kamu gak mau nyoba makanan lain, kita tak berteman lagi … putus!” ancam Alifia seraya memasukkan kimbap ke dalam mulut.
Entah energi dari mana, tangan Alfin bergerak menyambar jjajangmyeon. Mencicipinya. Terasa lezat. Tambah lagi. Rebutan dengan Alida.
“Tuh kan … sekarang pengen dimakan semua deh …”
“Ha-ha …”
“Ta … di … gak … gak … ma … ma … u” sindir Alida yang mulutnya belepotan kimchi.
“Ha-ha … sorry …”
Pak Gafar dan Zulaikha menyudahi makannya. Dilanjutkan dengan perbincangan yang santai-tegang, laksana Adam dan Eva yang terpisahkan tigaratus tahun dan bertemu kembali di Jabal Rahmah, bukit batu Mekah.
Mereka berpindah ke ruang tamu yang sempit. Alfin, Alifia, dan Alida masih menuntaskan jamuan makan malam. Pak Gafar dan Zulaikha duduk berhadapan di sofa butut. Meski angin tidak mampir di kali Ciliwung, baunya menguap bagai kentut limbah sop buntut.
“Kamu tetap seperti belasan tahun lalu, cantik …”
“Beneran?”
“Apakah aku pernah bohong?”
“Makasih …”
“Anakmu sudah besar. Cakep kayak ibunya …”
“Aku tidak tahu harus bicara apa. Berapa pun uang, tidak akan pernah bisa mengganti … pengorbananmu …”
Di ujung kalimat itu, air matanya menetes, melewati pipi hingga dagunya yang v-shape murni. Zulaikha mengusap basah itu.
Pak Gafar mendekatinya. Memegang bahunya.
“Tidak perlu dilanjutkan … aku bahagia … Alfin sudah bertemu ibu kandungnya …”
Zulaikha menyandarkan kepalanya ke bahu kanan Pak Gafar. Pak Gafar belum pernah merasakan getaran hebat seperti momen malam ini. Apakah ini karena cinta mekar kembali atau lama tidak menyentuh perempuan sejak kematian istrinya?
Pak Gafar tersadar. Terdengar ketukan pintu secara kasar dan keras. Pak Gafar menegakkan kepala Zulaikha. Bergegas membuka pintu.