Hujan Tak Berpayung

Syaiful Alim
Chapter #25

Episode 25 Dua Perempuan yang Melesatkan Busur Panah

Episode 25

Dua Perempuan yang Melesatkan Busur Panah

 

Seusai kepergian Alfan ke alam baka, Zulaikha bersiasat mengurus surat Sertifikat Tanah Pak Gafar, agar kelak waktunya tiba, mendapat ganti rugi (untung) yang layak. Satu-satunya jalan, adalah menemui Pak Rendy, seorang developer perumahan dan makelar tanah.

Zulaikha meminta waktu untuk ketemu di kafe langganan. Dahulu, sebelum check in dan indehoy di hotel, bersama Pak Rendy atau para tamu khusus Pak Rendy, mereka bersantai dan bersantap malam di situ.

Kafe yang menyajikan live music dengan band-band amatir. Pihak manajemen kafe mendatangkan atau didatangi mereka dengan biaya murah. Prinsip simbiosis mutualisme.

Zulaikha dan Pak Rendy agak menjauh dari suara desah biduan di panggung. Sambil menyandarkan punggung dan mengisap rokok secara kuat, Pak Rendy mendengarkan pembicaraan Zulaikha.

Pak Rendy memakai celana jeans selutut. Berkaos kerah pendek abu-abu. Bersepatu slip-on kulit. Pergelangan tangan kanannya dilingkari jam tangan warna keemasan. Di jemari kiri tengahnya (jari hantu atau mati), terpasang akik kecubung ungu yang memikat. Berkumis hitam lebat, yang nyaris menyungkupi bibir atas. Sedangkan Zulaikha mengenakan mini dress abu-abu sampai lutut.

 

“Terkesan mendadak, tapi aku harap kamu mengerti maksudku …”

“Apa yang tidak pernah kumengerti tentangmu, Cantikku …”

“Aku butuh bantuanmu …”

“Apa aku pernah tidak menolongmu?”

“Aku mau urus sertifikat tanah …”

“Punya siapa?”

“Kerabat …”

“Butuh cepat atau …?”

“Aku tau cara kerjamu. Bukankah gak mau lama? Kamu kan sudah klick dengan ordal …”

“Kalau indehoy, aku maunya lama …”

“Kali ini, aku maunya cepat …”

“Beres … asal …”

“Bayarnya pakai jasaku yang dulu belum dibayar oleh tiga tamumu …”

“Kosong gak malam ini?”

“Aku sedang M …” Zulaikha berbohong. Sejatinya, dia sudah berjanji kepada putranya, Alfin, untuk tidak terjun ke dunia gelap-basah lagi.

Lihat selengkapnya