Episode 27
Sel untuk Ansel
Ibu Alfin mengadakan pertemuan dengan De Bigundal Jono, partner kerja almarhum Alfan dan yang gagal membookingnya. Ibu Alfin mendapat nomor ponsel De Bigundal Jono, dari ponsel almarhum Alfan, yang dipinjamkan oleh Pak Gafar.
Tempat pertemuannya di kelab malam yang bukan dikelola Lady Diyana. Ibu Alfin memilih waktu early evening dan kelab yang belum ternama. Supaya obrolan tidak terlalu terganggu dengung musik.
De Bigundal Jono menikmati vodka red bull dan rokok yang ngebul. Zulaikha, ibunya Alfin, menghayati margarita.
“Memang terbukti omongan orang-orang kelab, elu lebih cantik dari foto. Kebanyakan kan fotonya kayak bidadari, aslinya seperti penghuni jembatan Semanggi. Wajah elu kayak artis zaman-zaman dulu yang alami. Pantesan antrenya lama … gua aja nunggu seminggu. Itu pun gagal … he-he …”
“Makasih … saya sudah tua …”
“Sudah tua aja, cantiknya begini. Gimana muda elu? Gak ada obat kali …”
“Makasih … Bang Jono …”
“Gimana? Gua kaget dapat pesan whatsapp dan telepon dari elu …”
“Maafkan saya. Saya butuh pertolongan Bang Jono …”
“Sebenarnya gua sebel ama elu. Tapi, setelah dapet cerita dari Lady Diyana dan Joni, gua mau nemuin elu …”
“Cerita apa?”
“Bahwa elu udah insaf. Bahwa Alfan yang bebasin elu. Kalau gua jadi Alfan, juga akan melakukan hal sama …”
“Makasih … Bang Jono …”
“Selain Joni, Alfan adalah temen kerja yang pejuang. Dia gak pernah istirahat kalau target belum tercapai. Meski yunior, dia benar-benar gila. Gua salut ama dia. Maka, kecurangan dia yang bawa kabur uang tagihan, udah gua maafin dan gua ganti, daripada big boss marah besar …”
“Makasih … Bang Jono … Alfan sangat menyayangi bapaknya dan yang dianggap adiknya … Alfin … putra kandung saya …”
“Gua udah denger banyak dari mulut Alfan … sampai dia harus mati. Dia mati, tidak sia-sia …”
“Makasih … Bang Jono …”
“Sebenarnya butuh pertolongan apa?”
“Begini … Bang Jono … putra saya, Alfin, sudah dua tahun diganggu, dibuli berlebihan oleh teman sekolahnya. Masalahnya, tidak ada satu pun orang yang berani negur temannya … karena …”
“Karena?”
“Ortunya punya kekuasaan … bahkan kepala sekolahnya tidak bisa berbuat apa-apa …”
“Bedebah!”
“Dulu, ketika masih ada Alfan, temannya tidak berani mengganggu untuk sementara waktu … tapi setelah Alfan meninggal, temannya berulah lagi …”
“Apakah nama temannya itu Ansel?”
“Iya … Bang Jono … benar …”
“Dulu, Alfan pernah sedikit nyinggung nama itu pada beberapa yunior De Bigundal … bahkan mencari data tentangnya …”
“Saya benar-benar minta tolong ke Bang Jono …”