Episode 28
Hujan Tak Berpayung
POHON-POHON tua, masihkah ia menjaga kota? Masihkah
mengukur musim dan dingin dengan termometer batangnya?
HUJAN telah lama akrab dengan terminal dan angkutan kota.
Para penumpang menempuh perjalanan semalaman.
Terlalu banyak pohon-pohon tua. Tangan-tangan
yang menanamnya telah keriput dan pergi bersama usia.[1]
Hujan. Deras. Deras berkali-kali. Dari subuh hingga malam berlabuh. Pohon-pohon penyerap polusi kota, rubuh. Jalanan lumpuh.
Alfin, Pak Gafar, dan Zulaikha mengungsi ke rumah Alifia atas permintaan Alifia sendiri. Sejatinya, mereka bertiga menolak, karena akan kontrak rumah. Alifia mengiba-iba. Jiwa keibuan Zulaikha bertindak. Memenuhi permintaan Alifia. Apa lagi mama Alifia bertugas ke Aceh bersama tim relawan. Menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi korban banjir yang menenggelamkan rumah dan sejarah.
Hujan. Hujan. Deras. Deras sekali. Membanjiri instagram, what’sApp, facebook, tiktok, youtube, X, telegram, threads, pinterest, discord, reddit, snapchat, line, tumblr, e-mail, radio, koran, serta televisi.
“Banjir saban tahun. Mengapa pejabat tidak mau turun?”
“Ini kayak kutukan!”
“Mengapa terkutuk?”
“Salah kelola!”
Hujan. Hujan. Hujan. Deras. Deras sekali. Menjebol tanggul-tanggul laut. Membobol dinding-dinding perkasa. Menembus benteng-benteng raksasa. Mengobrak-abrik mimpi warga.
“Apakah musibah ini, takdir?”
“Bukan. Jika takdir, tidak mungkin Tuhan begitu kejam.”
“Lalu?”
“Takdir di tangan kita, manusia!”
“Benarkah?”
“Kadang, aku ragu!”