Hujan Tak Berpayung

Syaiful Alim
Chapter #29

Episode 29 Menunggu Payung


SUARA ALIFIA.

 

Banjir Jakarta telah surut. Banjir Aceh tetap pasang. Dan banjir kesedihanku tak kunjung susut.

Ketika nenek tiada, aku tidak rida atas nasib. Duniaku nyaris raib. Untungnya, ada Alfin, membikin kesedihanku rada reda.

Kini, kesimpangsiuran kabar mama yang sedang bertugas di Aceh, membuat duniaku nyaris raib kembali. Meski, mama tidak seistimewa nenek. Terutama setelah berpisah dengan papa. Mama mengalami trauma.

Ponsel mama tak bisa dihubungi. Mencoba berbaik sangka; mungkin jaringan internet terputus sementara atau kendala lain. Siapa yang punya kendali jika penyebabnya itu? Namun, ponsel-ponsel petugas dan relawan lain, terhubung dengan keluarga mereka.

Alfin berkali-kali mengajakku ke kantor mama, untuk menanyakan kepastian kondisi mama, namun mereka juga belum mendapat kepastian, masih terus dikoordinasikan. Dan tentu, pesan yang klise: sabar.

Banjir di Aceh, memang sungguh mengerikan. Air mengamuk. Merendam kota dan desa, setinggi dua meter. Banjir membawa endapan lembah lumpur dan ribuan kayu gelondongan.

Kayu-kayu itu milik siapa? Siapa yang menebangi hutan-hutan itu? Kayu-kayu bukan bekas kampak petani, tapi gergaji mesin atau alat potong berteknologi tinggi. Dan bertanda dengan cat hitam dan putih. Bertuliskan huruf dan angka di ujung-ujung gelondangan kayu.

Aku tidak fokus sekolah. Alfin yang mengerjakan tugas-tugas. Alfin, cowok yang baik. Mungkin, karena hidupnya penuh penderitaan, membuatnya memperhatikan kesakitan orang lain. Hanya Alfin, kekuatanku. Dia senantiasa mengedepankan kepentinganku daripada dirinya sendiri. Apakah ini the power of love-nya Celine Dion? Aku tak tahu. Sebab dia belum pernah mengungkapkan perasaan itu. Pada sisi ini, dia memang pengecut. Dia tidak sepemberani ketika menghadapi kerasnya hidup. Bagaimana kalau tiba-tiba ada cowok keren lain menyatakan cinta padaku? 

Lihat selengkapnya