Hujung Tanah

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #73

Meniti Takdir dan Nasib

Tatapan sepasang mata tak berdosa Arya Jamban penuh selidik. Perkampungan itu terlihat suram, tidak ubahnya dengan tempat dimana ia selama ini tinggal. Jiwa sucinya dapat mengendus penderitaan menahun yang telah hinggap di setiap atap bangunan rumah dan tempat tinggal para penduduk.

Namun begitu, ada sisi di dalam hatinya yang mampu menemukan keceriaan dan keharuan tiada tara jatuh tumpah ruah bersama kedatangan dan kehadirannya serta rombongan ini.

Tiga orang anak kecil, dua diantaranya perempuan sebaya dengan Arya Jamban, membalas tatapan penuh minat anak laki-laki itu.

“Mereka adalah anak-anak hamba, Tuan Putri Nilam Cahya,” ujar Manok Sabong kepada Nilam Cahya yang berjalan tepat di belakang Arya Jamban.

Mendengar ini Nilam Cahya terkejut, menatap takjub pada ketika anak itu.

“Mereka adalah Bejid Mannai, Dara Genuk, dan Dara Kanta’.” Manok Sabong menghela nafas panjang. “Mereka bertiga bukan satu-satunya anakku, Tuan Putri Nilam Cahya.”

Berceritalah Manok Sabong sepadat nan selengkap mungkin mengenai kisah hidupnya sehingga bisa berada di wilayah ini. Dalam perjalanan lengkung takdirnya, Pukat Mengawang dan beberapa warga perempuan berhasil ditemukan bersembunyi di tengah hutan dari kejaran pasukan musuh. Perasaan haru pecah membahana. Macan Uwi’ menemukan kembali adik perempuannya, Manok Sabong pun menemukan kembali istrinya. Namun, di saat yang sama, kesedihan tak terperi ikut membahana mengetahui bahwa putra sulung mereka, Puyang Gana sang pemberani dan gagah perkasa, telah tewas, sedangkan anak-anak mereka yang lain tak diketahui dimana rimbanya.

Setelah lama melewati hutan dalam perasaan sedih sekaligus tetap awas dan berjaga-jaga, berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya yang dianggap aman serta layak untuk ditinggali, sampailah mereka di tempat ini.

“Takdir pula yang akhirnya membawa hamba kembali bertemu dengan Tuan Putri, putri agung kerajaan Songkhra yang hamba abdi selama ini. Dapatkah kelak hamba bertemu dengan rakyat Songkhra yang lain, yang telah hamba rindu entah berapa tahun lamanya?”

Manong Sabong memang sudah menua, tetapi suaranya masih tetap penuh harapan. Bahkan mendengar cerita hidupnya saja setelah meninggalkan Labai Lawai, Nilam Cahya tidak mampu membayangkan seberapa berat kehidupan seorang Manok Sabong. Bukan berarti ia menyepelekan masalah yang ia hadapi pula selama ini, tetapi seorang Manok Sabong menjadi contoh nyata bahwa sikap berani hadir di dalam diri mampu membawa takdir kembali ke arah sejatinya.

Lihat selengkapnya