Hujung Tanah

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #74

Semuanya Larut di Dalam Keriangan dan Suka Cita

 Sosok laki-laki itu tak mungkin terlupakan oleh Putri Nilam Cahya. Tidak peduli bahwa peluh, lumpur, debu, tanah, rerumputan, serta noda-noda sejarah serta pengalaman mengotori seluruh lapisan kulitnya. Berbagai bentuk rajah menghiasi kulit yang menyembul oleh otot-otot terlatih di alam.

Putri Nilam Cahya takkan melupakan hangatnya lapisan kulit yang menyentuh kulitnya itu, yang kemudian bara panas menjadi api yang membakar keduanya ketika larut dalam adonan berahi. Sebuah pengalaman penuh dosa tapi diciptakan di dunia untuk manusia untuk bijak mengalaminya.

Ia tahu ia bodoh, ia tahu ia jauh dari bijak, ia tahu bahwa kesalahan besar ini tidak hanya mempermalukan dirinya sebagai seorang manusia, tetapi juga merendahkan harga dirinya sebagai sosok perempuan yang harusnya menjadi panutan dan harapan rakyat yang percaya serta menghormatinya. Namun begitu, ia menerima semua. Ia masih muda saat itu, ia masih dungu dan tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi.

Kini, setelah memiliki seorang Arya Jamban, dunia yang serasa mencemoohnya tidak lagi berarti. Cinta tumbuh begitu saja dengan subur dan dituangkan sepenuh hati kepada anak laki-lakinya itu. Maka, ketika muncul pertanyaan mengenai siapa sesungguhnya sang ayah, dan apakah putranya itu dapat menemuinya, pusaran rasa di jiwanya semakin menggebu-gebu.

Kini, setelah benar-benar bertemu dengan orang yang selama ini telah menjadi sosok tak dikenal tersebut, dunia dan kehidupan serasa tersingkap selebar-lebarnya.

Putri Nilam Cahya mengunci tatapan dengan sang laki-laki.

Keadaannya memang benar-benar memprihatinkan. Entah apa yang sudah terjadi pada jiwa dan raganya. Bahkan Manok Sabong pun tak mampu berkata-kata.

Sudah banyak kejadian yang ia lewati selama ini. Kemalangan, kesedihan, kehilangan sampai kematian orang-orang yang ia sayangi. Namun, ia tidak pernah melihat beban seberat itu pada sosok Macan Uwi’. Selama ini, Macan Uwi’ sangat ia hormati karena menjadi kepala kampung, tumenggung perang, sampai kepala adat orang-orang Mualang. Kepercayaan diri dan keberaniannya mengalahkan siapapun. Kesaktiannya pun tak dapat dipungkiri menggetarkan hati musuh-musuh kampung.

Temenggung Tibai menyentuh bahu Manok Sabong pelan. Tatapan matanya hangat.

Lihat selengkapnya