Dama’ Bulan menyerap segala surai-surai makna kehidupan yang menyentuhi pori-pori kulitnya. Ia menegakkan tubuhnya yang basah oleh air sungai. Ia sudah akrab sekali perbedaan rasa air sungai yang melekat di lidahnya, yang membedakan asinnya air laut seperti yang dahulu ia rasai selama di perjalanan ke Hujung Tanah dari negeri Songkhra.
Dedaup-dedaup yang mereka buat dan gunakan selama perjalanan dari Labai Lawai mencari keberadaan Tanjung Nagara itu karam. Sang raja memperhatikan betapa arus begitu deras, meloncat-loncat bagai kawanan ikan-ikan pesut raksasa di tengah sungai. Angin dan percikan hujan pun turut menemani kekacauan ini. Nampak jelas papan dan kayu-kayu dedaup timbul tenggelam bak dikunyah mulut air yang perkasa.
“Kita akan berhenti di sini, kembali membangun pemukiman untuk ditinggali,” perintah sang raja.
Suaranya pelan, datar, tetapi cukup jelas untuk didengar.
Para hulubalang dan prajurit segera saja melaksanakan titah tersebut.
Panglima Singa Guntur Baju Binduh-lah yang berperan besar dalam mengatur semuanya. Ia merasa bahwa ia harus waras dan penuh akal. Bukan berarti bahwa Dama’ Bulan sang Aji Melayu sedang menggila, tetapi, sebagai seorang raja dan pemimpin, sang panglima sadar bahwa laki-laki itu sedang kembali tergetar jiwanya. Perjalanan panjang berkelok-kelok baik secara harfiah maupun falsafah, telah membuat Dama’ Bulan lelah.
Panglima Singa Guntur Baju Binduh membiarkan laki-laki itu berdiri berbasah di tepi sungai, menatapi arus air liar yang seperti memainkan hidup mereka tersebut.
Dengan senjata tajam di tangan, perkakas dan peralatan yang masih bisa terselamatkan, rakyat Songkhra bahu-membahu membangun tempat berteduh serta mempersiapkan bahan makanan. Sang Panglima memberikan perintah nyata bagi para anggota kelompok tersebut agar dapat segera mengemankan semua keperluan mereka.
Dedaup-dedaup mereka rusak berat. Harta hilang dan selamat berbanding tipis.