Dama’ Bulan memang bermunajat kepada Yang Kuasa agar rombongan dedaup yang tertinggal dan terpisah di belakang mereka dapat selamat dan menyusul. Namun, ia sudah lama tahu bahwa kemungkinan apapun dapat terjadi. Maka, tujuan utamanya sekarang adalah untuk melanjutkan perjalanan serta bertahan hidup. Membuat dedaup-dedaup lagi yang lebih kokoh, kuat, dan tangguh harus ia selesaikan. Ini adalah bentuk pertanggungjawaban atas tugasnya sebagai seorang pemimpin.
Di tempat itu akhirnya telah banyak purnama pula mereka lalui. Pepohonan besar dan kuat ditebang. Kayunya dipoles dan dibentuk dengan sesuai agar tepat bagi pembuatan dedaup. Sisanya digunakan untuk membangun peristirahatan berupa pondok-pondok. Selama itu pula, mereka yang telah terbiasa berpindah-pindah mampu memahami ciri hutan dan apa yang bisa mereka manfaatkan untuk menjalani hari.
Bubu-bubu menjerat ikan yang tidak sedikit, meski tak seberlimpah sewaktu mereka berada di Labai lawai. Toh, dengan jumlah anggota kelompok yang tidak sebanyak dahulu, ikan, binatang buruan, buah-buahan serta tanaman hutan sudah melengkapi sebagai bahan makanan mereka.
Sampai saatnyalah dewata menjawab pertanyaan-pertanyaan sang Aji Melayu.
“Ampun, Paduka. Hamba mohon izin hendak melaporkan sesuatu,” ujar seorang warga yang menghadap Dama’ Bulan.
Laki-laki setengah baya itu adalah salah satu orang yang bertanggung jawab pada bubu-bubu ikan yang dipasang di sepanjang sungai. Wajahnya menunduk dalam dan kedua telapak tangan dikatupkan di depan dada. Namun, Dama’ Bulan sudah sempat melihat air muka rakyatnya itu yang sedikit pucat. Nafasnya pun terlihat memburu.
Dama’ Bulan sungguh berharap apa yang hendak laki-laki itu katakan bukanlah gelombang berita buruk nan mengerikan lagi. Pagi-pagi buta itu, sungguh, ia belum siap memakan kemalangan sebagai sarapan.
Dua hulubalang yang menyertai Dama’ Bulan langsung memasang wajah awas. Begitu juga dengan Panglima Singa Guntur Baju Binduh pun segera mendekat ke arah sang raja melihat ada seorang warga yang datang tergopoh-gopoh langsung menghadap junjungannya tersebut.
“Apa yang hendak engkau sampaikan, Paman?” tanya Dama’ Bulan.
“Hamba tidak mampu menutupi keterkejutan hamba ketika melihat ada sosok perempuan di atas sebuah rakit yang terbuat dari gelondongan batang pisang. Rakit itu tersangkut di bubu-bubu yang hamba pasang beberapa hari yang lalu. Hamba kesulitan untuk menjelaskannya kepada Paduka. Mohon ampun, ada baiknya, Paduka Raja melihatnya secara langsung.”
Lecutan perasaan tak menentu mendadak mendera Dama’ Bulan. Sebagai akibatnya, tanpa perintah, tanpa tanda-tanda, Dama’ Bulan melesat ke arah yang ditunjukkan oleh rakyatnya tersebut. Selama berada di tempat ini, ia sudah ikut melakukan semuanya bersama mereka. Ia tahu dimana buah-buahan yang tumbuh subur di pohon, ia tahu dimana pohon-pohon kekar yang dapat menyumbangkan kayu mutu terbaik, dan tentu saja ia tahu dimana warganya memasang bubu-bubu untuk ikan-ikan yang gemuk.
Sepasang kaki telanjang Dama’ Bulan berderap di tanah, menyibak ilalang, serta melompati akar-akar pepohonan.
Hatinya sungguh bergejolak liar. Ia yakin bahwa sosok yang diceritakan tersebut, bukanlah salah satu rakyatnya. Satu sisi ia merasa bersalah karena seperti tidak mengharapkan bertemu dengan rakyatnya sendiri. Namun, di sisi lain, ini berarti ia akan bertemu dengan sosok manusia lain untuk pertama kalinya setelah entah berapa warsa ia tinggal di pulau ini.
Untuk pertama kalinya pula selama ia hidup, rasa girang yang aneh menyala di dalam rongga dadanya. Ada kerinduan ganjil yang menyergap setiap sendi di dalam tubuhnya.