Hari itu udara terasa sangat berbeda. Sudah berpurnama mereka di tempat ini, tetapi hari-hari penuh dengan beragam pekerjaan. Semua dipusatkan untuk kembali membangun sarana untuk melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda. Selama masa itu pulalah mereka menutup diri pada segala keriuhan dan kehebohan. Memang, sama sekali berarti bahwa keadaan berpurnama-purnama itu penuh dengan kesedihan atau ratapan, tetapi bila melihat hari ini, mereka begitu penuh dengan bunyi. Kusak-kusuk rasa penasaran membuat pemukiman sementara itu menjadi riuh dan hidup kembali. Mereka tidak berpesta, akan tetapi bukankah keberadaan sosok tak dikenal yang sedang dirawat para dayang itu adalah sebuah hal yang memerlukan perhatian dari seluruh warga?
Para dayang dengan lembut dan telaten mulai melucuti segala sampah dan kekotoran di tubuh sang gadis. Yang paling mereka khawatirkan sejatinya bukanlah penampilan, apalagi gadis itu adalah seorang perempuan, tetapi kesehatan raga dan jiwa. Secara kasat mata saja sudah dapat dilihat pada tubuh sang gadis, selain kotor dan basah, ada koreng serta luka-luka di beberapa bagian di permukaan kulitnya.
Air panas dimasalak dan perlahan keempat dayang memandikan gadis yang masih diam itu. Sepasang matanya memandang takut-takut, tetapi ia tidak berontak ketika tangan-tangan kasar tetapi pernuh perhatian para dayang yang sudah berumur itu menyentuhinya.
Dua dayang mempersiapkan akar tumbuhan langit wakai untuk digunakan mencuci rambut panjang sang gadis yang sudah terlalu lama kotor dan menjalin dengan tanaman merambat. Bahkan untuk melepaskan beragam tanaman dari rambut dan tubuhnya saja membutuhkan hampir setengah hari.
Seorang dayang lainnya sudah meramu lemak buah tengkawang yang akan dioleskan pada tubuh sang gadis, sehingga bukan hanya melunturkan segala lumpur yang merekat, tetapi juga kembali membawa kecerahan sinar kulit itu kembali.
Segala jenis dedaunan, rimpang, kulit kayu, akar, bahkan sampai kayu-kayuan, diracik sedemikian rupa sebagai bahan pembersih dan untuk mempercantik gadis asing itu.
Rumput laut sudah lama mereka gunakan untuk melindungi wajah dari sinar matahari yang menyengat. Pasak bumi yang biasanya dikenal sebagai ramuan bagi kejantanann pria, nyatakan disediakan bumi untuk mempercantik kulit wanita pula. Sebagai sentuhan akhir, ramuan dari bentalekng yang daun mudanya dikucek dan dioleskan ke seluruh wajah, menyempurnakan pembersihan raga yang dilakukan sampai tiga hari lamanya.
Kegiatan itu tidak bisa diselesaikan hanya dalam waktu satu hari. Maka, sembari terus melakukan perawatan, warga yang lain, di sela-sela rasa penasaran mereka, memberikan makanan dan hidangan terbaik bagi sang gadis. Mereka menganggap orang asing itu adalah tamu pertama yang perlu dijamu sedemikan rupa. Toh, makanan-makanan itu memang diperlukan bagi tubuh seseorang yang berada dalam keadaan yang sedemikian memprihatinkannya.
“Sungguh, dunia selalu memberikan kita berbagai pertanyaan tetapi keindahan di saat yang sama. Sungguh cantiknya engkau, Anakku. Apakah engkau adalah seorang bidadari yang diusir ke bumi karena melanggar aturan para dewa?” ujar sang dayang yang paling tua.