Apa yang dicurigai sang dayang tua ternyata tidak sepenuhnya salah. Berhari-hari setelah keadaan sang gadis membaik, ia sudah mulai menunjukkan pemahaman dan keberaniannya berucap.
Para dayang awalnya menamainya sebagai Junjung Buih, karena ia memang ditemukan di atas rakit batang pisang dan buih-buih sungai yang menyertainya. Mereka pun masih belum dapat menemukan siapa nama aslinya, maka itulah panggilannya.
Junjung Buih, jauh lebih segar, jauh lebih sehat, dan jauh lebih siap, untuk pertama kalinya membuka mulutnya. Serentetan kata berserak kacau. Para dayang berusaha untuk mengatur pergerakan itu. Mula-mula, mereka berpikir sang gadis sungguh berbahasa asing yang mereka tak tahu dan sama sekali berbeda dengan bahasa Melayu mereka. Akan tetapi, ketika Junjung Buih mulai memperlambat ucapannya, tahulah mereka bahwa gadis itu sedang berusaha untuk menggunakan bahasa yang mereka mengerti. Ada banyak bagian dengan logat yang berbeda, sehingga kadangkala memang seakan-akan kata-katanya benar-benar berbeda dan tidak dimengerti.
“Mohon ampun Paduka Raja. Ternyata, apa yang hamba duga benar adanya. Gadis yang kami beri nama Junjung Buih tersebut ternyata mengerti bahasa kita, Paduka. Ia juga telah berusaha berbicara dengan kita dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya, dan siapa dia sesungguhnya,” lapor sang dayang.
Dama’ Bulan tersentak. Ia sudah menahan diri untuk segera ingin tahu kisah dibalik keberadaan gadis tak dikenal itu. Malah, dalam waktu singkat, semua langsung terjawab.
Junjung Buih berdiri di hadapan khalayak. Wajahnya bersinar, tidak hanya dengan kecantikan alami, melainkan juga oleh semangat serta dukungan warga yang menyirami keberadaannya.
Kegugupan jelas menempel erat menjadi jubah yang dikenakan sang gadis. Ia memindai sekelilingnya malu-malu. Syukurnya, semua orang memberikan pandangan penerimaan dan kehangatan, sebagaimana telah dialaminya selama dirawat di pemukiman ini.
Terbata-bata, penuh dengan perhentian, lompatan, dan kosakata yang perlu ditasirkan kembali untuk mendapatkan keutuhan maknanya, Junjung Buih memulai cerita hidupnya.
“Nama yang diberikan kedua orang tuaku adalah Putong Kempat,” ujarnya.