Hatta, dedaup-dedaup baru yang lebih kokoh terbangun sudah. Dengan keteguhan hati dan kepercayaan diri, Dama’ Bulan memimpin langsung di dedaup terdepan. Segala perbekalan dan persenjataan disertai dengan doa dan harapan mengalir di atas permukaan arus sungai. Dama’ Bulan, merapal mantra, membalut tekadnya, memberikan kabar bagi para Lapongke, para dedemit hutan, mahluk-mahluk gaib dan adikodrati untuk membantu perjalanan mereka, atau sama sekali enyah dari hadapan rombongan ini.
Beberapa hari mendayung, mengulang jalur sungai dimana Junjung Buih terkatung-katung di atas permukaan arusnya.
Lagi-lagi, untaian dedaunan dan jalinan ranting serta akar-akar pepohonan menyertai perjalanan rombongan ini. Bedanya, keakraban terhadap rerimbunan hijau bagai selimut bumi itu sudah menyatu bersama mereka setelah bertahun-tahun lamanya tinggal di bumi Hujung Tanah ini. Itu sebabnya, untuk menyempurnakan keakraban mereka, bertemu dengan penghuni asli pulau ini menjadi tujuan utama mereka.
Putong Kempat ternyata mampu mengarahkan rombongan menuju ke pemukimannya dahulu di kaki Bukit Kujau walaupun setelah berhari-hari mendayung, diganggui mahluk halus, serta sedikit kebingungan atas arah.
Dama’ Bulan merasakan hatinya mencelos membayangkan apa yang sudah dialami gadis muda itu selama dilarungkan ke sungai. Bagaimana ia bisa bertahan dengan dinginnya air sungai, rasa lapar, serangga dan binatang-binatang pengganggu, serta bahkan sampai jamur dan tumbuhan merambat begitu menyukainya.
“Mungkin hamba dijagai dewata, atau entah setan-setan penghuni hutan pula. Yang jelas, hamba merasa kosong selama di atas rakit. Mungkin hamba memakan tumbuhan dan binatang yang hidup di tubuh hamba,” ujarnya kepada Dama’ Bulan.
Berkali-kali mendengar ceritanya, tiada yang bisa Dama’ Bulan pikirkan selain itikad besar untuk mempertemukan Putong Kempat dengan saudara-saudara dan warga kampungnya. Benar apa yang sudah Dama’ Bulan katakan dan tekankan, Putong Kempat kini adalah bagian darinya, bagian dari mereka, bagian dari rakyat Songkhra yang juga sama terkatung-katungnya dengan Putong Kempat.
Setelah sekian lama perjalanan, hal pertama yang ditemukan rombongan Dama’ Bulan adalah rasa khawatir dan takut dari Putong Kempat yang tersebar rata ke seluruh warga. Bagaimana tidak, semua dapat melihat pemukiman yang ditunjukkan oleh sang gadis, tetapi tanpa seorang pun di sana. Ada sepetak wilayah di bawah kaki sebuah bukit, tidak jauh dari sungai. Memang, bangunan-bangunan kayu terlihat secara utuh. Bekas-bekas kegiatan rakyat juga dapat disaksikan dengan gamblang. Namun begitu, beberapa rumah sudah hancur dan tentu saja tidak ada seorang manusia pun yang hadir di tempat itu.
Tanpa membiarkan perasaan takut-takut dan kecurigaan yang tidak memiliki jawaban, Dama’ Bulan dengan tanggap memerintahkan Singa Elang bersama pasukannya untuk menyisir daerah tersebut, sampai puncak Bukit Kujau.
Kesiapan persenjataan para prajurit di bawah perintah Singa Elang langsung mencium aroma mencekam ketika akhirnya mereka hampir sampai dengan berjalan menanjak ke puncak bukit. Sang pemimpin pasukan memberikan tanda untuk menyibak ilalang perlahan dan tetap awas pada lingkungan sekitar.
Naluri keprajuritannya tidak pernah hilang walau telah bertambah usia. Selama ini, pelatihan kanuragan secara terus-menerus ditambah dengan pengalaman mereka yang terus berpindah wilayah, semakin mempertajam keawasannya.